Tuntut Ilmu hingga ke Negeri Sakura
Winda Monika. (FOTO KOLEKSI PRIBADI)

Tuntut Ilmu hingga ke Negeri Sakura
Jumat, 09 Februari 2018 - 10:22 WIB > Dibaca 1223 kali
 
RIAUPOS.CO - Dalam Islam, orang yang melengkapi iman dengan ilmu tinggi sangat dihargai. Dikatakan pula, “Tuntutlah ilmu hingga ke Negeri Cina”. Hal itu disadari betul oleh muslimah satu ini, Winda Monika. Sebagai muslimah dia harus membekali diri dengan ilmu meski harus menuntutnya di negeri orang.

Muslimah satu ini mampu menaklukkan Negeri Sakura, Jepang. Lebih membanggakan lagi, studinya di negeri terkenal dengan Doraemon itu dengan beasiswa. So Inspiring ya Ladies. ”Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan melalui beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Sama seperti awardeered. Istilah penerima beasiswa LPDP lainnya, saya menempuh serangkaian seleksi yang disediakan LPDP. Saat itu, prosedurnya melengkapi persyaratan administrasi, wawancara, tes tertulis, dan leaderless group discussion. Cukup menantang. Ada kepuasan tersendiri bisa lulus seleksi super ketat itu,” paparnya.

Di Jepang, dia mengambil pendidikan magister atau S2. Dia diterima di Graduate School of Library, Information, and Media Studies di University of Tsukuba di Ibaraki, Tokyo. Untuk program magister, umumnya ditempuh selama dua tahun.

Sebagai muslimah yang kuliah di negeri orang, Winda mengaku, luar negeri tidak melulu menawarkan keindahan. Banyak suka cita yang dialaminya. “Kendala awal yang saya rasakan, menyangkut adaptasi. Pertama kali ke Jepang, saya akui merasakan cultural shocked. Segala sesuatu harus on time. Jika ada jadwal semisal lab-meeting yang dihadiri supervisor dan rekan-rekan se-lab, mereka datang 30 menit sebelum meeting berlangsung. Ini sudah menjadi budaya Jepang,” terangnya.

Hal itu memotivasi Winda untuk menghargai waktu. Tepat waktu di negara itu terlihat dari jadwal transportasi publik seperti kereta api dan bus yang datang tepat waktu. Kalaupun mengulur waktu, akan ada pemberitahuan yang disampaikan di stasiun, media massa dan lainnya. Managemen waktu dan ketertiban di tempat umum begitu penting di Jepang.

Lanjut ke cerita berikutnya. Wanita berhijab ini juga mengaku mengalami language barrier.  “Meskipun studi saya menawarkan international program, namun tidak semua staf di universitas bisa berbahasa Inggris. Begitu juga di lingkungan apartemen. Kebanyakan orang Jepang tidak bisa bahasa Inggris. Untuk bertahan hidup, mau tidak mau saya harus belajar sedikit-sedikit bahasa Jepang,” jelasnya.

Winda masih punya cerita. Pengalaman menarik lainnya Ladies. Dia mengaku sering struggling tiap kali perubahan musim. Terutama saat perubahan ke musim dingin. Tak jarang dia terserang flu ataupun demam. Ketahanan tubuhnya benar-benar diuji di saat suhu menunjukkan angka di bawah nol derajat. Winda pun harus lebih bersabar dan menurunkan hasrat pilih-pilih makanan. Belum lagi di saat rindu melanda akan rumah dan kampung halaman. Wah pengorbanan yang besar banget ya Ladies. Memang nggak seindah yang dibayangkan.





Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif | Aktifitas |