Jangan Biarkan Sakit Telinga Otitis Media, Bisa Fatal
dr Ariel Anugrahani SpTHT-KL. (RIAUPOS)

Jangan Biarkan Sakit Telinga Otitis Media, Bisa Fatal
Jumat, 09 Februari 2018 - 09:54 WIB > Dibaca 551 kali
 
RIAUPOS.CO - Ketika merasa ada sakit di telinga, tidak jarang orang abai atau malah menganggap rasa sakit itu biasa dan tidak perlu disembuhkan. Padahal, sakit telinga bisa saja berakibat fatal jika tidak ditangani segera.

Otitis Media adalah peradangan pada sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. Otitis media berdasarkan gejalanya dibagi atas otitis media supuratif dan otitis media non supuratif, di mana masing-masing memiliki bentuk yang akut dan kronis. Selain itu, juga terdapat jenis otitis media spesifik, seperti otitis media tuberkulosa, otitis media sifilitika. Otitis media yang lain adalah otitis media adhesiva.

Otitis media akut (OMA) adalah peradangan telinga tengah dengan gejala dan tanda-tanda yang bersifat cepat dan singkat. Gejala dan tanda klinik lokal atau sistemik dapat terjadi secara lengkap atau sebagian, baik berupa otalgia, demam, gelisah, mual, muntah, diare, serta otore, apabila telah terjadi perforasi membran timpani.

Pada pemeriksaan otoskopik juga dijumpai efusi telinga tengah (Buchman, 2003). Terjadinya efusi telinga tengah atau inflamasi telinga tengah ditandai dengan membengkak pada membran timpani atau bulging, mobilitas yang terhad pada membran timpani, terdapat cairan di belakang membran timpani, dan otore (cairan telinga).

Dokter spesialis telinga, hidung dan tenggorokan Rumah Sakit Awal Bros Panam, dr Ariel Anugrahani SpTHT-KL menyebutkan, otitis media umumnya diakibatkan oleh Bakteri piogenik merupakan penyebab OMA yang tersering. Menurut penelitian, 65-75 persen kasus OMA dapat ditentukan jenis bakteri piogeniknya melalui isolasi bakteri terhadap kultur cairan atau efusi telinga tengah. Kasus lain tergolong sebagai non- patogenik karena tidak ditemukan mikroorganisme penyebabnya.

Tiga jenis bakteri penyebab otitis media tersering adalah Streptococcus pneumoniae (40%), diikuti oleh Haemophilus influenzae (25-30 persen) dan Moraxella catarhalis (10-15 persen). Kira-kira 5 persen kasus dijumpai patogen-patogen yang lain seperti Streptococcus pyogenes (group A beta-hemolytic), Staphylococcus aureus, dan organisme gram negatif. Staphylococcus aureus dan organisme gram negatif banyak ditemukan pada anak dan neonatus yang menjalani rawat inap di rumah sakit. Haemophilus influenzae sering dijumpai pada anak balita. Jenis mikroorganisme yang dijumpai pada orang dewasa juga sama dengan yang dijumpai pada anak-anak.

Otitis media lebih banyak dialami oleh anak-anak, tetapi orang dewasa pun tidak tertutup kemungkinan bisa juga mengalaminya. “Mengapa lebih banyak menyerang anak-anak, itu karena rongga telinganya lebih pendek dan sempit dan posisinya mendatar. Sehingga misalnya saat posisi minum susu tidur, atau batuk pilek, anak-anak rentan dengan penyebaran virus atau bakteri penyebab otitis media,” katanya di Poli THT Rumah Sakit Awal Bros Panam, Kamis (8/2).





Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif | Aktifitas |