Majas

ALINEA
Majas
Minggu, 04 Februari 2018 - 12:05 WIB > Dibaca 625 kali
 
Oleh: Fatmawati Adnan
Balai Bahasa Riau


“Kita hidup dikelilingi sastra” tulis Lakoff & Johnson dalam buku yang berjudul Metaphors We Live by (1980). Sastra yang dimaksud oleh Lakoff & Johnson adalah penggunaan majas atau gaya bahasa dalam kehidupan kita, khususnya metafora.

Bahkan, mereka mengklaim bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari bermetafora, berbicara dan berpikir dengan menggunakan metafora. Lebih lanjut Lakoff & Johnson mencontohkan bentuk bahasa seperti “jatuh cinta, patah hati, patah semangat, patah arang, keras kepala, berhati baja, ujian sudah di ambang pintu, gantungkan cita-cita setinggi langit, menjadi batu sandungan”, dan lain-lain tidak lain adalah bentuk-bentuk metafora. Akan tetapi, sering orang tidak menyadari bahwa mereka telah menggunakan majas dalam berbahasa.

Pada umumnya orang-orang beranggapan majas hanya ditemui dalam karya sastra, karena memang karya sastra cenderung mengedepankan bahasa yang indah dan imajinatif. Namun, ternyata bahasa sehari-hari pun tidak terlepas dari majas. Terdapat berbagai sebab penggunaan majas dalam pergaulan sehari-hari. Pada dasarnya penggunaan majas bertujuan agar pesan atau gagasan yang disampaikan lebih mengena bagi pembaca atau pendengar dengan cara yang lebih halus dan intelek.

Margot van Mulken, Rob le Pair, dan Charles Forceville (2010) meneliti tentang bahasa periklanan di tiga negara Eropa, yaitu Spanyol, Perancis, dan Belanda. Mereka menyimpulkan bahwa konsumen lebih memilih dan mengapresiasi iklan yang menggunakan majas. Konsumen menganggap pesan yang disampaikan secara hibrida (menyimpang) atau mengandung makna kiasan lebih menarik dan terkesan cerdas.

Meskipun bahasa kias memungkinkan hadirnya interpretasi yang beragam karena setiap individu berbeda dalam menafsirkan, namun, secara umum dapat dikatakan bahwa iklan tersebut mendorong pemirsa untuk mencari pernyataan positif tentang produk.

Nurita Widyanti (2013) dalam artikelnya yang berjudul “A Stylistic-Pragmatic Analysis of Figurative Language in Harper’s Bazaar Magazine Advertisement” menemukan enam majas yang biasa muncul pada iklan Harper’s Bazaar Magazine, yaitu metafora, hiperbola, personifikasi, simile, metonimi, dan sinekdok. Penggunaan majas dimaksudkan untuk memunculkan asosiasi emotif yang tepat untuk suatu produk sehingga konsumen melihat hubungan antara arti harfiah dan figuratif suatu barang.

Menurutnya, penerapan majas memainkan peran penting dalam periklanan, yaitu membuat iklan menarik, lebih informatif, dan persuasif. Tidak diragukan lagi, majas berkontribusi pada promosi penjualan produk dan membuat layanan yang diiklankan berhasil dan berkembang.

Tidak hanya dalam iklan, media cetak dan elektronik lainnya (surat kabar, majalah, televisi, dan media sosial) dalam penyampaian berita dan informasi juga menggunakan majas. Artinya, majas ditemukan dalam berbagai aktivitas berbahasa dalam kehidupan sehari-hari manusia. Majas tidak lagi “milik” karya sastra tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, seperti yang dikatakan oleh Lakoff & Johnson, “kita hidup dikelilingi sastra”.

Sastra lisan juga sarat dengan penggunaan majas karena memang mengutamakan keindahan berbahasa, seperti yang ditemukan pada pantun, syair, gurindam, dan peribahasa. Biasanya majas yang digunakan bertolak dari filosofi kehidupan masyarakat pemilik sastra lisan tersebut. Hal ini disebabkan karena sastra lisan pada dasarnya merefleksikan pola pikir dan karakter masyarakat lokal.

Penggunaan majas tidak semata-mata untuk memperindah bahasa yang digunakan, tetapi juga memuat pengetahuan, kearifan, dan kebijaksanaan masyarakat penggunanya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa majas mengandung pemikiran, gagasan, norma-norma, serta kecerdasan emosional, sosial, dan intelektual.  

Majas digunakan untuk menyampaikan “sesuatu” dengan “yang lain”. Lakoff & Johnson mendefinisikan majas sebagai “….understanding one thing in terms of another…”. Secara sederhana dapat diartikan “memahami satu dalam hal yang lain”.

Artinya, majas tidak dipahami secara harfiah tetapi membutuhkan penafsiran dengan memahami makna kiasan yang tersembunyi. Sebab majas mengungkapkan ungkapan secara tidak langsung, misalnya dengan mengutarakan perbandingan analogis.

Majas adalah pemanfaatan kekayaan bahasa dengan pemakaian ragam tertentu untuk memeroleh efek-efek tertentu yang berfungsi untuk mengongkretkan dan menghidupkan gagasan yang diungkapkan. Penggunaan majas memunculkan nuansa baru yang mampu menimbulkan perubahan pada kalimat ataupun teks yang disampaikan.

Dengan mengacu pada berbagai sumber (Luxemburg, 1989; Moeliono, 1982; Pradopo, 1987), pemaparan tentang jenis-jenis majas atau gaya bahasa dapat dirangkum sebagai berikut: (1) majas perbandingan yang meliputi majas alegori, alusio, simile, metafora, antropomorfisme, sinestesia, antonomasia,  aptronim,  metonimia, hipokorisme, litotes, hiperbola, personifikasi,  depersonifikasi, pars pro toto, totum pro parte, eufemisme, disfemisme,  fabel, parabel, perifrase, eponim,  dan simbolik; (2) majas  sindiran yang meliputi majas ironi, sarkasme, sinisme, satire, dan innuendo; (3) majas penegasan yang meliputi apofasis, pleonasme, repetisi, pararima, aliterasi, paralelisme, tautologi, sigmatisme, antanaklasis, klimaks, antiklimaks, inversi, retoris, elipsis, koreksio,  polisindenton, asindeton, interupsi, ekskalamasio, enumerasio, preterito, alonim, kolokasi, silepsis, zeugma; dan (4) majas  pertentangan yang meliputi paradoks, oksimoron, antitesis, kontradiksi interminus, dan anakronisme.

Penggunaan setiap bentuk majas memiliki tujuan tersendiri. Majas perbandingan mengungkapkan gagasan dengan menggambarkan sesuatu melalui perumpamaan untuk memperhalus dan memperindah gagasan yang disampaikan. Majas ironi dimaksudkan agar sindiran yang disampaikan tidak terdengar terlalu kasar agar tidak mempermalukan orang yang disindir. Majas penegasan bertujuan untuk mempertegas apa yang sudah disampaikan dengan keterangan tambahan yang diharapkan semakin memperkuat gagasan tersebut. Majas pertentangan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar.

Kekayaan makna suatu bahasa menjadi dasar pembentukan majas. Hampir seluruh bahasa di dunia memiliki majas yang beragam, seperti bahasa Arab, Jerman, Inggris, Spanyol, dan lainnya.

Bahasa merupakan produk budaya yang memungkinkan penggunanya untuk berkreativitas dengan sangat liar dan imajinatif. Sebab bahasa bersifat terbuka dan dinamis sehingga membuka peluang yang luas untuk bermain-main dalam “taman bahasa” sepuas mungkin. Setiap bahasa memiliki khasanah kosakata dan pengetahuan yang sangat kaya dengan kekhasan masing-masing. Sungguh luar biasa anugrah Allah Swt yang bernama “bahasa” ini, bahasa juga yang membuat manusia lebih beradab dan berbudaya. Dan, dengan majas bahasa menjadi lebih halus dan indah.***




Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif | Aktifitas |