Negeri yang Tak Pernah Disentuh Ban Mobil
MENITI TALI: Seorang anak di Desa Pangkalan Serai meniti tali untuk menyeberangi anak sungai di desa itu, belum lama ini.(SARIDAL MAIJAR/RIAU POS)

Melihat Kondisi Pelosok Kampar
Negeri yang Tak Pernah Disentuh Ban Mobil
Minggu, 04 Februari 2018 - 12:16 WIB > Dibaca 12666 kali
 
Desa Pangkalan Serai namanya. Letaknya di pelosok Kabupaten Kampar, Riau. Di sini tak ada sinyal untuk telepon seluler dan tak ada jalan aspal menuju desa ini. Yang ada hanya jalur sungai dan jalan setapak baru ditemukan saat tiba di desa ini sehingga negeri ini tak pernah ditempuh mobil dan sepeda motor.

KAMPAR KIRI HULU (RIAUPOS.CO)-Di Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Desa Pangkalan Serai ini berada. Paling ujung bagian barat kecamatan. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat. Daerah ini cukup jauh dari pusat pemerintahan. Untuk sampai ke desa ini, dari Bangkinang Kota sebagai pusat pemerintahan Kampar, akan memakan waktu sekitar 7 jam.

Riau Pos mendatangi desa ini pada akhir 2017 lalu. Saat sampai di Desa Gema, mobil atau sepeda motor tak bisa lewat lagi. Sebab, untuk mencapai Desa Pangkalan Serai, harus menggunakan perahu. Tak ada jalan darat ke sana. Harus mengarungi Sungai Subayang.

Ada dua jenis perahu mesin yang biasa digunakan warga. Perahu kecil dinamai warga robin, dan perahu ukuran besar selalu disebut warga setempat dengan istilah jhonson. Kalau ke Pangkalan Serai, ongkosnya Rp50 ribu per orang.

Untuk mencapai Desa Pangkalan Serai, ada beberapa desa yang dilalui. Mulai dari Desa Muaro Bio, Batu Sanggan, Tanjung Beringin, Gajah Bertelut, Aur Kuning, Tarusan, Subayang Jaya dan yang paling ujung Desa Pangkalan Serai. Perjalanan dengan perahu ini, akan memakan waktu empat jam.

Ketika sampai di Pangkalan Serai, terlihat sebuah jembatan gantung berwarna kuning yang melintang di atas sungai. Ini jadi penghubung antara dua dusun di desa ini. Terlihat seorang lelaki paruh baya melintasi jembatan itu.

Musbar (48) nama pria itu. Dia terlihat membawa peralatan penyadap karet, yang disandangnya dalam tas lusuh. Di pinggangnya, diikatkan parang yang dibungkus sarungnya. Dia terus berjalan menuju kampung di siang yang terik pada pertengahan November 2017 itu. Mukanya berkerut. Kepalanya menunduk, hanya fokus melihat jalan. Tampaknya Musbar kurang bersemangat.

Ternyata, dia sedang bersedih, sebab pohon karet miliknya, tak bisa disadap secara keseluruhan. “Semalam hujan. Jadi tidak bisa kami potong (sadap, red) semuanya. Masih basah,” kata Musbar.

Ucapan itu, membuatnya berhenti berjalan. Duduk di sebuah teras rumah warga. Barang-barang yang dibawanya dilepas. Sepertinya, dia belum puas bicara. Dengan wajah masih menunduk, dia kembali bersuara. “Apalagi sekarang harga karet murah. Paling-paling  Rp4.500 per kilogram,” katanya.




Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif | Aktifitas |