Relokasi 5.000 Jiwa atau Lepaskan Status Lahan
KEBUN SAWIT: Wartawan Riau Pos Sahridal Maijar menunjuk hamparan kebun sawit di Dusun Toro Jaya, beberapa waktu lalu.(MONANG LUBIS/RIAU POS)

Dilema Dusun Toro Jaya di Taman Nasional Tesso Nilo (3)
Relokasi 5.000 Jiwa atau Lepaskan Status Lahan
Jumat, 02 Februari 2018 - 15:57 WIB > Dibaca 1208 kali
 
Nasi sudah menjadi bubur. Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), telanjur menjadi perkampungan. Pertumbuhan penduduk meningkat tajam. Kini tinggal dua pilihan, lepaskan status lahan, atau relokasi warga.

PELALAWAN (RIAUPOS.CO)-Dusun Toro Jaya ini sudah ditempati warga sejak 2000-an. Kehidupan terus berkembang. Kebun sawit dan kebun karet mulai tumbuh dan berkembang. Melihat kondisi Toro Jaya yang menjanjikan untuk lahan perkebunan, semakin ramai pula warga berdatangan. Rata-rata datang dari Sumatera Utara.

Hingga kini sudah ada 5.000 jiwa lebih dari 1.100 KK yang menetap di sana.

Sistem pemerintahannya juga sudah tersusun rapi. Di dusun itu saja, terdiri dari 17 RT dan 3 RW. Masing-masing RT dan RW sudah ditunjuk ketuanya. Oleh karena itu, Kepala Dusun Toro Jaya Suryadi berharap betul kalau lahan yang sudah telanjur mereka garap, dilepaskan dari status taman nasional. “Kami ingin ini dibebaskan. Cukup yang sudah tergarap saja. Kami tak akan tambah lagi,” harapnya.

Status taman nasional yang menjadikan tempat warga bermukim, tak bisa dibangun dengan uang negara. Dana yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), tak boleh digunakan untuk membangun fisik, selama status taman nasional belum dilepas.

Di sisi lain, dengan jumlah penduduk yang sudah banyak, perlu didukung dengan berbagai fasilitas. Namun, warga tak tinggal diam. Keperluan itu muncul seiring dengan tumbuh kembangnya kehidupan manusia. Inisiatif dilakukan warga. Bergotong royong untuk mengadakan fasilitas yang diperlukan.

“Di sini semuanya swadaya,” ujar Suryadi.

Sebut saja akses jalan. Meski di dusun itu tak ditemui sejengkal pun jalan aspal, namun jalan tanah dibuat warga secara bersama-sama dengan sederhana. Jalan utama hingga gang. Beberapa ruas jalan menuju rumah warga bahkan sudah diberi nama. Ada yang namanya Jalan Semangka, Jalan M, dan berbagai nama lainnya. Sudah seperti kompleks perumahan di kota-kota saja.

Jembatan juga dibangun, meski terbuat dari kayu. Dananya dari sumbangan warga.

“Untuk pembangunan fisik, kami kumpulkan uang Rp50 per kg hasil panen sawit warga. Ada tim yang mengumpulkannya. Kemarin terkumpul Rp70 juta untuk membangun jembatan,” kata kepala dusun.





Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif | Aktifitas |