Lahirkan Generasi Berprestasi dari Tanah Terlarang
FOTO BERSAMA: Murid SDN 003 Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Pelalawan, foto bersama gurunya di depan sekolah mereka, beberapa waktu lalu.(MONANG LUBIS/RIAU POS)

Dilema Dusun Toro Jaya di Taman Nasional Tesso Nilo (2)
Lahirkan Generasi Berprestasi dari Tanah Terlarang
Kamis, 01 Februari 2018 - 12:56 WIB > Dibaca 2078 kali
 
Jangan pandang sebelah mata mereka yang menimba ilmu di Dusun Toro Jaya. Walaupun berada di tanah terlarang, namun tak menyurutkan semangat para generasi penerus ini untuk belajar. Berteduh dalam ruangan yang berdinding papan, dibangun tanpa campur tangan pemerintah, tapi tak kalah dalam prestasi.

RIAUPOS.CO-Waktu menunjukkan pukul 09.30 WIB. Rabu (26/1) pagi itu, matahari bersinar cukup cerah di Dusun Toro Jaya, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Pelalawan. Namun cahayanya tak menyengat. Ini membuat para murid nyaman bermain di lapangan sekolah mereka.

Mengenakan seragam batik, dengan bawahannya warna merah, puluhan murid kelas jauh SDN 003 Desa Lubuk Kembang Bunga, berlarian ke sana ke mari. Derai tawa lepas dari mulut mereka di atas tanah kuning yang cukup luas itu.

Lonceng pun berbunyi. Tanda habisnya waktu istirahat. Serentak para murid masuk ke kelas. Selayang pandang, ruangan tempat mereka belajar bak gubuk saja. Dindingnya dari papan. Kayunya masih alami. Dinding luar tak pernah dicat. Berwarna cokelat tua yang sudah mulai kusam. Tak ada jendela di sisi kiri dan kanannya. Hanya ada ventilasi di bagian atas dinding tempat sirkulasi udara.

Lantainya dari semen coran. Itu pun sudah berlubang-lubang. Tak ada plafon. Bagian atas ruangan tempat mereka menimba ilmu hanya berbatas atap seng. Panas memang, tapi para murid ini tak menghiraukannya. Barangkali mereka sudah terbiasa dengan ini.

Mereka tampak serius mendengarkan pelajaran yang disampaikan guru. Tiga murid duduk berderet di belakang satu meja, membuat bahu mereka bersentuhan. Tak ada risih sedikit pun terlihat dari sikap mereka, walaupun duduk berdempet-dempetan. Ruangan seluas 6x4 meter diisi 35 murid.

“Beginilah tempat anak-anak belajar,” kata Sindy Kusumawardhani SSos, salah seorang guru yang mengajar di sekolah itu kepada Riau Pos.

Perempuan 30 tahun ini juga dipercaya sebagai koordinator di kelas jauh itu. Sindy menunjukkan semua ruang kelas yang ada. Selain tiga kelas semipermanen, ternyata ada enam kelas lagi yang dibangun permanen. Semuanya didirikan dengan swadaya. Sumbangan dari masyarakat, orangtua murid, dan tokoh di dusun itu. Dikerjakan dengan gotong royong. Tak ada yang dari pemerintah.

“Karena ini masuk dalam TNTN, makanya tak bisa pakai dana pemerintah. Paling bantuan dari pemerintah hanya untuk operasional. Seperti dana bantuan operasional sekolah (BOS, red),” kata Sindy.

Pakaian dan buku murid juga pernah dibantu Pemkab Pelalawan.

Satu ruangan kelas di antaranya, kata Sindy, digunakan sebagai ruangan kantor guru. Sisanya dijadikan ruangan belajar.

“Pustaka kami belum ada. Sebenarnya ini memang diperlukan sekali oleh murid. Kalau ruang kelas, kami perlu empat lagilah,” kata Sindy.

Sindy bercerita, sekolah ini awalnya dibangun pada 2007. Dia bersama beberapa rekannya yang memotori. Ide ini dimunculkan karena banyaknya anak yang tak bersekolah. Sebelum kelas jauh SDN 003 Desa Lubuk Kembang Bunga didirikan, hanya ada SDN induk yang jarak tempuhnya 4 jam dari Toro Jaya. Inilah yang membuat Sindy prihatin. Kalaupun ada sekolah yang bisa ditempuh 2 jam, itu pun sudah berada di Kabupaten Kuantan Singingi.

Ternyata ide itu disambut baik masyarakat. Tokoh adat di dusun itu menyumbangkan hartanya untuk membangun sekolah yang awalnya didirikan hanya tiga kelas semipermanen.  “Sekarang alhamdulillah sudah bertambah kelas kami,” katanya.

Namun, jumlah kelas yang ada masih belum mampu menampung semua murid. Saat ini saja ada 408 murid. Mulai dari kelas I hingga kelas VI. Wajar saja, penduduk di dusun ini sangat banyak. Belum lagi nanti murid baru yang masuk di tahun ajaran berikutnya.

“Saya rasa belum semua anak di dusun ini yang sekolah. Masih banyak lagi yang tidak sekolah,” jelasnya.

Untuk kelas I saja, kata dia, ada 65 murid. Sehingga, jumlah ini tak bisa ditampung dalam satu rombongan belajar (rombel). Pihak sekolah harus membaginya menjadi dua rombel. Begitu juga dengan kelas II, III, V dan VI. Hanya kelas IV yang terdapat satu rombel.

“Melihat kondisi ruangan, terpaksa kami bagi dua. Ada yang masuk pagi dan ada yang masuk siang,” ujarnya.

Kondisi jalan tanah di dusun itu kerap membuat murid yang tinggalnya jauh datang terlambat. Apalagi saat musim penghujan tiba. Jalan sulit dilalui. Kelas menjadi sepi. Sebagian murid tidak datang karena kondisi yang memang tidak memungkinkan. Sindy memahami hal itu.  “Kami pahami saja. Kalau ada yang terlambat atau absen, tak bisa kami marahi mereka,” ujarnya.

Tapi jangan salah, sekolah ini telah melahirkan delapan angkatan alumni. Alumni pertama pada 2008. “Sekarang alumni sini sudah ada yang kuliah,” ujarnya.

Dulu, kata Sindy, sejak 2008 hingga 2014 murid harus melaksanakan ujian di sekolah induk, yang harus menempuh perjalanan selama empat jam dengan kendaraan. Ini menjadi kesulitan. Sebab, guru, murid dan wali murid harus bertahan di sekolah itu selama ujian berlangsung. Tapi sekarang, sekolah ini sudah dipercaya melaksanakan ujian akhir sekolah sendiri.  “Tiga tahun ini sudah ujian di sini. Kepala sekolah meringankan kami,” sebutnya.

Meski berstatus kelas jauh dengan fasilitas yang serbaterbatas, hasil ujian akhir sekolah muridnya patut dibanggakan. Empat tahun terakhir, nilai murid jauh lebih menonjol dibanding murid yang ada di sekolah induk.  “Kalau prestasi, alhamdulillah. Empat tahun berturut-turut lebih unggul dari sekolah induk,” ujarnya.

Itu semua tak terlepas dari perjuangan para guru sekolah ini. Mereka betul-betul bertekad menciptakan generasi yang berprestasi. Selain Sindy, ada delapan guru lainnya yang juga mengajar di sekolah itu. Dari semua guru, tak satu pun yang berstatus aparatur sipil negara (ASN).

Enam orang pengajar, berstatus honor daerah yang SK-nya dikeluarkan Dinas Pendidikan Pelalawan. Salah satunya Sindy. Tiga lagi, berstatus guru komite. Saat ditanya berapa gaji yang diterima per bulannya, Sindy tak mau berkomentar banyak.

“Ya, cukuplah. Tak besar-besar kali. Lagian di sini anak-anak kami juga,” ujar Sindy sambil tersenyum.

Sedangkan guru komite paling besar gajinya Rp1 juta. Itu untuk yang berstatus sarjana. Kalau yang masih mahasiswa, jasanya dibayar Rp800 ribu. Latar belakang pendidikan pengajar di sekolah ini juga tak sinkron. Misalnya Sindy yang merupakan sarjana sosial. “Ya, siapa lagi yang mau mengajar di sini. Sekarang untung ada,” ujar dia.





Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif | Aktifitas |