Perhatian! Begini Penjelasan Ahli soal Mitos Mecin Bikin Bodoh
Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat FEMA Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Ketua Umum Perhimpunan Pakar Pangan dan Gizi Indonesia, Prof Hardinsyah MS PhD. (RIESKA VIRDHANI/JAWAPOS.COM)

JADI JARGON
Perhatian! Begini Penjelasan Ahli soal Mitos Mecin Bikin Bodoh
Selasa, 23 Januari 2018 - 17:25 WIB > Dibaca 853 kali
 
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Monosodium Glutamat (MSG) atau mecin sangat akrab dengan keseharian, terutama soal jajanan. Misalnya saja terdapat dalam baso goreng (basreng), aci telor (cilor), aci gulung (cilung), dan aci dicolok (cilok).

Lantas, belakangan ini juga ada istilah generasi mecin yang disematkan jika seseorang berbuat kebodohan. Pendek kata, mengosumsi mecin dianggap bisa membuat bodoh seseorang. Benarkah hal itu?

Menurut Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat FEMA Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Hardinsyah MS PhD, jargon mecin bikin bodoh bisa muncu karena adanya penelitian seorang psikiater di Washington University bernama John Onley.

Dari penelitiannya terhadap tikus, Onley melaporkan bahwa MSG dapat menyebabkan neurotoksisitas (kerusakan fungsi otak) akibat tingginya konsentrasi glutamat yang tinggi yang dapat merusak otak.

Namun, studi itu ditentang dikarenakan metodologi yang digunakan Onley tidak sesuai. Dosis yang digunakan sangat tinggi, yaitu 4 gram per kilogram berat badan tikus. Metode injeksi (suntikan) MSG tidak mewakili perilaku normal manusia saat mengonsumsi MSG lewat makanan.

Pasalnya, tidak ada manusia yang mengonsumsi MSG lewat suntikan, tetapi lewat makanan yang dikonsumsinya.

"Sebutan Generasi Mecin (bisa bikin bodoh) dugaan saya karena penelitian itu seolah MSG merusak otak dan konotasi jadinya bodoh. Tapi orang tak melihat dosisnya," ujarnya dalam seminar bersama PT Ajinomoto dalam menyambut Hari Gizi Nasional (HGN) pada 25 Januari, Selasa (23/1/2018).

Ketua Umum Perhimpunan Pakar Pangan dan Gizi Indonesia itu lantas menganalogikan berbagai penelitian yang menyebutkan konsumsi daging sapi bisa meningkatkan risiko kematian. Tentu saja itu betul jika dikonsumsi di atas 400-700 gram per hari.

"Judul penelitian kan kadang tak menyebut batas takarannya. Padahal, konsumsi daging masyarakat Indonesia cuma 20 gram per hari," paparnya.



Berita Terkait
Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif | Aktifitas |