Nandung yang Syarat Nilai

ALINEA
Nandung yang Syarat Nilai
Minggu, 24 Desember 2017 - 12:10 WIB > Dibaca 552 kali
 
(RIAUPOS.CO) - Sastra lisan merupakan hasil kebudayaan lisan dalam masyarakat tradisional yang isinya dapat disejajarkan dengan sastra tulis dalam masyarakat modern; seperti nyanyian rakyat, cerita rakyat, syair, dan pantun.  Ada kalanya, syair dan pantun bergabung menjadi satu dalam wajah baru. Masyarakat Indragiri Hulu bersepakat menyebutnya dengan Nandung.

Menurut Sudirman Hamid dalam buku yang ditulis oleh Ahmad Darmawi berjudul Sastra Lisan Nandung Indragiri Hulu, Nandung merupakan perpaduan serasi dari irama syair dengan untaian pantun yang dilafazkan untuk menidurkan anak. Tradisi menidurkan anak sambil mendendangkan atau menandungkan kata-kata hikmah menjadi tradisi yang dikenal dan tersebar di seluruh wilayah Riau. Berbagai irama serta sebutan untuk nyanyian menidurkan anak. Ada yang menyebut Dodoi. Juga, ada juga yang mengenalnya dengan Dudu (dalam dialek bahasa Melayu Rengat), sedangkan di Rokan Hulu dikenal dengan Onduo.

Menurut Ahmad Darmawi dalam bukunya Sastra Lisan Nandung Indragiri Hulu, Nandung mempunyai pengertian yang luas, yaitu sastra lisan masyarakat Indragiri Hulu: rangkaian kata berbentuk pantun yang dinyanyikan dengan irama untuk mendodoi atau menidurkan anak di kalangan masyarakat tempatan dan atau yang berasal dari Indragiri Hulu.

Mengenal Nandung sebagai nyanyian pengantar tidur tentu memerlukan pemaknaan yang lebih dalam. Berbagai term/istilah dilekatkan pada Nandung.  Pertama, term rangkaian kata: adalah kumpulan beberapa kata yang terpilih berbentuk kalimat. Satu baris kalimat terdiri dari empat sampai delapan kata. Kedua, term berbentuk pantun adalah: salah satu bentuk sastra klasik Melayu yang terdiri dari 4 (empat) baris dalam satu bait. Dua baris pertama merupakan sampiran dan dua baris terakhir merupakan isi dengan rima akhir: a,b-a,b. Ketiga, term yang dinyanyikan dengan irama: untaian dan rangkaian nada yang dilagukan dengan irama sejenis syair (irama Nandung). Irama antara bait yang satu dengan yang lain sama. Antara bait diselingi dengan kata-kata La Ilahaillallah.

Sedangkan yang keempat, term untuk mendodoi atau menidurkan anak adalah: Nandung yang didendangkan kaum perempuan untuk menidurkan anak (biasanya) dalam buaian atau gendongan dan pangkuan. Kelima adalah term di kalangan masyarakat tempatan atau berasal dari Indragiri Hulu, yaitu masyarakat tempatan (Melayu) yang berada di wilayah atau masyarakat perantau yang berasal dari Kabupaten Indragiri Hulu.   

Seiring dengan perkembangan zaman, sastra lisan Nandung nyaris hilang. Kehadiran gawai (handphone) menjadi salah satu penyebabnya. Telepon pintar dengan keengkapan fitur yang dimiliki, terutama sebagai alat hiburan (musik) makin meminggirkan keberadaan Nandung sebagai nyanyian pengantar tidur anak. Masyarakat lebih memilih cara praktis untuk menidurkan anak mereka. Masukkan anak dalam ayunan, putar nyanyian dengan gawai, lalu para orang tua bisa melakukan aktivitas lain yang mereka inginkan. Tanpa harus ber-nandung-ria. Alhasil, tradisi Nandung atau mendodoi anak tidak dipakai lagi di kalangan ibu-ibu.

Membicarakan Nandung sebagai sebuah produk budaya yang dimiliki masyarakat Melayu merupakan sebuah kajian menarik. Contohnya Nandung Bayang Setumbang Badan yang ditulis oleh seorang pakar budaya Melayu Ahmad Darmawi. Nandung Bayang Setumbang Badan dari Kabupaten Inhu menyimpan nilai religius yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ada nilai akidah (keimantauhidan), syariat (peribadatan), dan nilai keikhsanan (akhlak).

Untuk nilai akidah bisa dilihat dalam dalam bait Nandung yang dimaknai sebagai manusia harus memercayai rukun iman.



La IIaha lIlallah

Muhammad Rasulullah



Alif mulakan huruf hijaiyah

Hingga ke Ya – nak sayang – genapkan sebutan

Bermula iman karena aqidah

Allah Ta’ala – nak sayang – engkau tauhidkan



Setelah makan – nak sayang – makanlah buah

Buah mangga masak sebiji

Setelah beriman kepada Allah

Imani pula –nak sayang – malaikat yang suci



Nara Singa raja sejati

Raja pertama – nak sayang dari Melaka

Di antara semua kitab samawi

Al- Qur’an sahaja – nak sayang- kitab sempurna



Baginda mandi di dalam perigi

Perigi raja – nak sayang – di seberang Sapat

Banyak Nabi perkara Nabi

Tidak semulia – nak sayang – Nabi Muhammad

La IIaha lIlallah

Muhammad Rasulullah



Beranyam tikar si daun pandan

Pandan suasa – nak sayang – kuat daunnya

Qodha dan Qadar Allah tetapkan

Kepada semua – nak sayang – makhluk yang ada

Bait Nandung tersebut memaparkan dengan jelas nilai-nilai akidah yang sesuai dengan syariat Islam. Setiap kali menidurkan anak, maka saat itu pula bait-bait Nandung diperdengarkan ke telinga si anak. Orang tua (terutama ibu) akan mendendangkan pegangan hidup (akidah) sebagai manusia yang beriman kepada anaknya. Rukun iman tergambar di dalam Nandung. Tentu, semua ini sangat syarat dengan nilai dan upaya penanaman konsep akidah sejak dini. Sayang, tradisi Nandung sudah sulit ditemui pada masyarakat Melayu.

Untuk menyelamatkan tradisi Nandung, Balai Bahasa Riau telah melakukan inventarisasi sastra lisan (salah satunya Nandung) ke berbagai Kabupaten di Riau. Hasil napak tilas sejumlah peneliti Balai Bahasa Riau ke daerah menyimpulkan bahwa sastra lisan (terutama Nandung) sudah sangat jarang diperdengarkan ke anak sebagai nyanyian pengantar tidur. Upaya untuk lebih menghidupkan kembali Nandung tentu menjadi sebuah hal yang urgen. Tidak lain, tentu saja untuk menghidupkan kembali sastra lisan yang sarat dengan nilai, makna, dan manfaat. Semoga ibu-ibu di Indragiri Hulu khususnya dan ibu-ibu lain yang memiliki sastra lisan menidurkan anak kembali menyenandungkan lagu-lagu tradisional yang memiliki muatan normatif tersebut. Semoga mereka tidak mengabaikan  sastra lisan yang tidak hanya sekadar untuk menidurkan anak, tetapi juga “mengajari” anak tentang akhlak dan kebaikan. Semoga. **

Imelda - Peneliti Sastra pada Balai Bahasa Riau





Berita Terkait
Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif | Aktifitas |