Tumbuh dan Belajar di Alam
BERCENGKERAMA: Plt Kepala Sekolah Alam Rumbai dan guru sedang bercengkerama dengan murid di dekat saung tempat belajar mereka. Syahrul Mukhlis/Riau Pos

Memilih Pendidikan Tanpa Ruang Kelas
Tumbuh dan Belajar di Alam
Minggu, 24 Desember 2017 - 11:06 WIB > Dibaca 1210 kali
 
Anakku harus tumbuh jadi manusia normal. Bisa berinteraksi dengan semua orang dan segala bentuk situasi lingkungannya
---------------------------------------------------------------

YUSRI (40) sedang duduk di tangga tidak jauh dari sebuah Pendopo di Bumi Perkemahan Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim Minas Riau. Perempuan berhijab ini sedang mengamati sekelompok anak-anak yang sedang bermain di sekitar bumi perkemahan tersebut.

Kedatangan Yusri, warga Jalan Sekolah Rumbai di tempat sepi di tengah hutan belantara tersebut bersama rombongan anak-anak usia sekolah bukan dalam rangka peringatan Hari Ibu.

Saat ibu-ibu yang lain sibuk memasak di rumah, ada yang bekerja kantoran, bahkan ada yang ke salon dan berkeliaran di mal, Yusri tidak. Pilihannya untuk tetap memberikan dukungan terhadap anaknya lebih kuat.

Yusri sedang ikut dengan rombongan dari sekolah anaknya SD Sekolah Alam Rumbai di bawah naungan Yayasan Arruhama di Lembah Damai Rumbai, Sabtu (16/12) lalu. Mereka datang ke bumi perkemahan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Syarif Hasyim untuk belajar dan berkegiatan di alam sebelum libur sekolah. Hanya Yusri sendiri orangtua dari salah satu anak di kelompok tersebut yang ikut.

Sekilas dilihat, tidak ada yang salah dengan rombongan tersebut. Seorang perempuan berhijab, guru mereka, memegang alat pengeras suara TOA untuk memandu anak-anak tersebut berbaris.

Beberapa anak terlihat asyik bergelut dan berkejar-kejaran setelah turun dari sebuah angkutan kota. Sampai mereka disuruh berbaris, maka semua tertib.

Ada yang terlihat sibuk membawa tas mereka. Ada juga terlihat memasang tali sepatu. Tidak banyak bicara, kemudian mereka di bawah komando segera merapikan barisan dan mengatur posisi.

Yusri terlihat berada tidak jauh dari rombongan anak-anak yang sedang berbaris tersebut. Perempuan asal Pulau Jawa ini sedang melihat anaknya yang ikut berbaris.

Sebelumnya Yusri berdomisili di Depok. Baru sekitar satu tahun belakangan dia tinggal di Riau. Dia ikut suaminya yang bekerja di sebuah persahaan perminyakan terkenal di Riau.

Namun, kondisi di Riau jauh dari peradabannya di Jakarta sebelumnya. Termasuk dalam bidang pendidikan di Riau yang tidak sama dengan Jakarta. Akibatnya Yusri harus memilih sekolah yang tepat untuk putranya.

Sekolah yang menurutnya tepat untuk seorang anak yang tidak seperti anak-anak lainnya. Putranya memiliki sedikit keterbatasan.

Dafa (7) harus memakai alat bantu dengar. Saat itu Dafa sudah bisa bermain, kejar-kejaran, melompat dan bergelut dengan teman-tamannya.

Menurut Yusri, ketika kecil anaknya tidak kekurangan apapun. Namun seiring bertambahnya umur, baru terdeteksi ketika Dafa berumur dua tahun enam bulan, kemampuan mendengarnya tidak sama seperti normalnya anak lainnya.

"Setelah kami periksakan ke dokter, diketahui tidak bisa seperti anak lainnya. Mungkin tuna rungu. Penyebabnya tidak jelas, ada anggapan virus rubela yang menyerangnya sehingga bagian di telinga yang rusak sehingga kemampuan mendengar tidak seperti anak-anak lainnya," sebut Yusri dengan mata menerawang mengenang kejadian beberapa tahun lalu.

Yusri mulai mencari-cari cara agar anaknya bisa mendengar dengan baik. Akhirnya diputuskan untuk memasang alat di kepala anaknya agar bisa mendengar.

"Akhirnya kami putuskan untuk operasi saja, memasang implan alat bantu dengar di kepalanya. Tapi saat ini baru sebelah. Kasihan dia harus banyak makan anti biotik karena operasi. Jadi sebelah dulu, nanti dilanjutkan lagi sebelahnya. Tapi tunggu dulu, kasihan dia harus sering operasi, tidak baik untuk anak kecil," sebut Yusri.

Jika suaminya masih tetap bekerja di Jakarta, Yusri punya banyak pilihan sekolah untuk putranya itu. Namun, karena pindah ke Pekanbaru, kondisi jadi tidak seperti perkiraannya semula.

"Jadi saya harus memilih. Anakku harus tumbuh jadi manusia normal. Bisa berinteraksi dengan semua orang dan segala bentuk situasi lingkungannya. Saya mencari sekolah yang normal, di mana anak saya bisa bergaul dan berteman dengan anak-anak yang normal. Saya tidak mau anak saya dikelompokkan sesama anak yang tidak bisa mendengar juga. Toh dia akan tumbuh di lingkungan yang normal, akan berbaur dan berkegiatan di masyarakat yang normal. Mengapa sekelas dengan anak-anak yang tidak bisa mendengar juga. Saya ingin anak saya tumbuh normal," kata Yusri dengan nafas berat dan mata berkaca-kaca.

Meski sudah dipasang implan. Namun itu baru sebelah. Untuk menunjang pendengaran yang lebih baik, Dafa masih harus memakai alat bantu dengar untuk telinga kirinya. Yang dipasang implan baru telinga kanan.

"Dafa harus pakai baju khusus untuk alat bantu dengarnya. Saya harus menjahitkan di bajunya di bagian dalam agar alatnya tidak mudah lepas," sebut Yusri.

Dengan implan dan alat bantu dengar itu, Dafa bisa berinteraksi dengan teman-temannya. Bahkan saat bekejaran, Dafa bisa mengimbangi temannya berlari, bersenggolan dan bertabrakan dengan temannya.

Ketika bersenggolan dengan temannya, Dafa terlihat meringis. Kemudian berhenti berlari dan mendekati ibunya. "Kenapa? Sakit? Gak apa-apa kan?" tanya Yusri pada putranya.

"Tidak," kata Dafa sambil tersenyum dan tidak jadi mendekati ibunya. Dia kemudian kembali berlari dan berkejaran dengan teman-temannya.

"Keseimbangannya bagus, tidak mudah jatuh. Bahkan saya melihatnya tidak ada masalah," kata Yusri.

Yusri kemudian bercerita mengenai perkenalannya dengan SD Sekolah Alam Rumbai. Ketika itu dia bercerita kepada salah satu temannya tentang rencana mencari sekolah yang tidak menyatukan anak-anak dengan keterbatasan dalam satu kelas yang sama dengan sesamanya.

Temannya bercerita tentang sekolah SD Sekolah Alam Rumbai. Sejak itulah Yusri tertarik dan berusaha mengenal sekolah tanpa ruang kelas belajar tersebut.

"Ada teman yang, dia salah satu pembina Yayasan Arruhama, dia bilang ada sekolah alam, saya tertarik makanya Dafa saya sekolahkan di sekolah alam. Dari awal memang mau memasukkan ke sekolah alam di Depok," ujar Yusri.

Plt Kepala Sekolah SD Sekolah Alam Ayu Citra Pratiwi mengatakan sebelumnya memang sudah ada sekolah swasta di bawah naungan Yayasan Arruhama, namun bukan sekolah alam. Kemudian mereka mencari model sekolah yang tidak sama dengan sekolah-sekolah kebanyakan dan menemukan konsep sekolah alam.

"Awalnya sudah ada Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) tapi kemudian kami cari model dan metode pengajaran yang dirasa lebih baik. Akhirnya konsep sekolah alam ini kami terapkan," kata Ayu.

Di sekolah mereka, outbond, tracking, adventure itu makanan sehari-hari. Bahkan mereka tidak punya ruang kelas dengan bangku dan meja seperti sekolah pada umumnya.

"Di sekolah kami tidak kenal ruang kelas untuk kegiatan belajar. Semua menyatu dengan alam," kata Ayu.

Soal Dafa yang dengan keterbatasan, Ayu mengatakan mereka menerima anak atau siswa dengan segala kondisi.

"Kami menerima siswa dengan kondisi apapun. Ada yang disleksia, autis, intelektual disabiliti, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), gangguan fokus. Selama masih bisa bersosialisasi dan berinteraksi, mengapa harus ke SLB. Mengapa anak-anak ini harus sekelas dengan orang-orang yang punya gelaja yang sama dengan dirinya, padahal mereka harus bersosialisasi di tengah masyarakat," kata Ayu.

Ayu bahkan sempat bercerita tentang salah satu siswanya yang sudah sering pindah-pindah sekolah.

"Ada anak pindahan, katanya sudah sering pindah sekolah. Disebut nakal, bodoh, tidak taat aturan. Akhirnya sekolah asalnya tidak sanggup lagi menampung," kata Ayu.

Kemudian orangtua anak tersebut mengantarkan ke sekolah yang dipimpin Ayu tersebut.

"Awalnya memang terlihat bandel, tapi kami tentunya punya metode sendiri. Kami periksakan ke ahli psikologi, ternyata anak itu IQ-nya superior. Kalau sekolah biasa kan tidak akan sampai menguji anak ke ahli psikologi itu. Beberapa waktu lalu lah kami tahu kondisi anak itu superior setelah keluar hasil tesnya. Setelah masuk sekolah alam ini, kemampuan anak itu tetap mau sekolah," ungkap Ayu.

Ayu menceritakan tentang sekolah yang dipimpinnya, disana karena merupakan sekolah alam, program konservasi alam dan camp masuk dalam kegiatan belajar mengajar. Mindset mereka adalah learning by doing.

"Setelah berdiri 2016 lalu, maka sejak dua tahun lalu kami masuk ke jaringan sekolah alam nusantara. Tahun depan kami akan buka di Kubang," ujar Ayu.

Dijelaskan Ayu, SD Sekolah Alam Rumbai adalah unit pendidikan Yayasan Arruhama Alam Indonesia yang menerapkan kurikulum, program unggulan dan target pencapaian standar untuk SD Sekolah Alam. SD Sekolah Alam Rumbai mulai menerapkan konsep sekolah alam pada tahun 2016.

Mereka memiliki fasilitas seperti saung belajar, bukan ruang kelas. Playground dan arena outbound, lapangan dan fasilitas memanah (archery), tracking area dan konservasi berbasis kearifan lokal atau local wisdom, arena green lab, laboratorium, perpustakaan.

"Sekolah kami dengan rasio 1 fasilitator dengan siswa maksimal 13 di kompleks PKBM Arruhama, Jalan Paus Nomor 8, RT 01 RW 05 Kelurahan Lembah Damai, Kecamatan Rumbai Pesisir, Kota Pekanbaru, di Jalan Budisari juga," kata Ayu.

Soal orientasi mereka, Ayu mengatakan kurikulum yang diterapkan berorientasi untuk mencetak generasi yang berkarakter pemimpin, berfikir logis ilmiah, memiliki lifeskill dan bakat yang terasah, berjiwa entrepreneur, serta cinta dengan lingkungannya.

"Penerapan kurikulum ini didasarkan atas dengan pendidikan Al-Quran serta nilai-nilai keislaman. Kurikulum yang diterapkan tersebut merupakan kurikulum standar sekolah alam Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JSAN) dan disesuaikan dengan kearifan lokal yang juga seiring dengan standar nasional pendidikan Indonesia," sebut Ayu.

Di sekokah mereka, menjadikan guru/fasilitator berkualitas sebagai teladan yang membimbing dengan kasih sayang dan bahasa bunda, alam semesta sebagai laboratorium terbaik dalam pembelajaran, budaya literasi sebagai dasar keilmuan, teladan dan pembiasaan sarana pembentuk karakter dan leadhership, serta multiple intelegent dan peta bakat sebagai dasar pengembangan bakat dan potensi peserta didik.

"Kami satu-satunya sekolah alam di Pekanbaru. Kami berusaha menjadi sekolah terpercaya mencetak generasi khalifatul fil ardh yang siap menjadi penyebar rahmatan lil alamin. Penerapan kurikulum didasarkan atas dengan pendidikan Al-Quran serta nilai-nilai keislaman," sebut Ayu.***

Laporan SYAHRUL MUKHLIS, Pekanbaru


Berita Terkait
Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif | Aktifitas |