Pesona Nuansa Adat Budaya Bali di Pemuteran Bay  Festival 2017
Pesona Nuansa Adat Budaya Bali di Pemuteran Bay Festival 2017.

Pesona Nuansa Adat Budaya Bali di Pemuteran Bay Festival 2017
Jumat, 15 Desember 2017 - 09:46 WIB > Dibaca 1064 kali
 
BULELENG (RIAUPOS.CO) – Pemuteran Bay Festival 2017 sarat akan nilai-nilai filosofi, hingga event yang didukung Kementerian Pariwisata (Kemenpar) ini terasa sangat sakral. Sakral bukan saja kental dengan nuansa adat budaya Bali, tapi festival ini pun mengandung nilai penting untuk menghidupkan kembali industri pariwisata Pulau Dewata.

Pemuteran Bay Festival 2017 yang digelar sejak 13 sampai 16 Desember benar-benar istimewa. Sebab, ini menjadi edisi perdana festival yang mengeksplor keindahan alam dan budaya di wilayah Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Dipilihnya Pemuteran sebagai start tidak lepas dari nama besar yang disandang desa ini. Meletakan alam sebagai komoditi pariwisata, Pemuteran menjelma jadi sentra konservasi terumbu karang dan telah meraih sedikitnya empat pujian internasional. ISTA Gold Award pun menjadi pujian terakhir yang diterima mereka.

Menghormati keseimbangan alam, rangkaian Pemuteran Bay Festival dimulai dengan konservasi alam melalui metode biorock. Metode ini memakai struktur besi yang dialiri listrik arus lemah 3,8 volt sampai 12 volt hingga mineral yang larut ikut tertarik lalu membentuk karang dalam rangka besi. Membentuk biorock menjadi Garuda, patung burung simbol negara seberat 3 ton ini pun ikut ditenggelamkan. Saat ini sekitar 100 patung dari berbagai rupa sudah menghiasi dasar laut Teluk Pemuteran. Wakil Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra mengatakan, Burung Garuda akan menjadi maskot wisata bahari Pemuteran.

“Apresiasi bagi pemangku wisata hingga terlaksananya festival ini. Melakukan promosi pariwisata, tapi tidak melupakan konservasi lingkungan. Festival ini diawali dengan peresmian patung Garuda. Garuda banyak maknanya dan salah satunya simbol dari keberagaman yang harus dirawat hingga menguatkan. Patung Garuda tersebut nantinya akan menjadi ikon laut di Pemuteran,” ungkap Nyoman Sutjidra yang membacakan sambutan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana.

Usai melakukan peresmian biorock replika Burung Garuda, para stakeholder pariwisata menaiki perahu menuju sisi lain dari Teluk Pemuteran dengan diiringin live musik tradisional Bali. Di sisi teluk tersebut, mereka menikmati parade budaya bersama masyarakat juga wisatawan (mancanegara dan nusantara). Ingin menunjukan kekayaan budaya Teluk Pemuteran yang kaya akan vibrasi harmoni, parade budaya pun dibuka dengan parade busana nusantara yang dibawakan oleh siswa Taman Kanak-Kanak. Mereka lalu bernyanyi lagu ‘Potong Bebek Angsa’ hingga gerakan jenaka tarian disambut tawa pengunjung.

“Kami berharap besar dari beragam keunikan yang ditampilkan di Pemuteran Bay Festival ini. Sebab, pariwisata itu rentan dengan berbagai isu. Dengan pulihnya sektor pariwisata ini, harapannya ekonomi masyarakat pulih. Selama ini pariwisata memang menjadi lokomotif perekonomian Bali, meski masih ada sektor pertanian dan industri kecil. Dengan keunikan dan keindahan parade budaya ini diharapkan bisa mendatangkan kembali wisatawan asing,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Anak Agung Yuniarta Putra.



Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif | Aktifitas |