Kostum Tiara Tembus Enam Besar  Miss Ambasador
Busana The Princess of Mambang si Mutu Olang

The Princess of Mambang si Mutu Olang
Kostum Tiara Tembus Enam Besar Miss Ambasador
Minggu, 10 Desember 2017 - 19:40 WIB > Dibaca 604 kali
 
(RIAUPOS.CO) - USAI menjuarai lomba kostum budaya di helat Festival Lancang Kuning pekan lalu, kostum bertajuk The Princess of Mambang si Mutu Olang berhasil pula meraih enam besar di Miss Tourism Ambasador di Manila, Philipina. Saat tulisan ini diturunkan, Sabtu (9/12) malam tadi, pengumuman kostum terbaik masih berlangsung.

Desainer kostum The Princess of Mambang si Mutu Olang, Tiara Irawan asal Riau berbangga hati, karyanya masuk enam besar di level  internasional. Kostum yang didesain Tiara itu dikenakan langsung oleh Miss Ambasador Riana Puspita Dewi yang mewakili Indonesia.

“Saya tidak menyangka, karya saya bisa sampai ke level itu. Padahal saya hanya mengikuti lomba kostum yang ditaja Dinas Kebudayaan Riau pekan lalu. Tapi, wakil Indonesia tertarik dan membawanya ke level lebih bergengsi. Berada di level enam besar pula. Mudah-mudahan jadi yang terbaik di level tertinggi itu,” ujar Tiara panjang lebar.

Menurutnya, inspirasi kostum yang didesainnya itu diangkat dari legenda masyarakat Pangean, di Kuantan Singingi, Riau. Kisahnya cukup mengharukan dan menarik jika diolah menjadi sebuah karya, dalam hal ini karya kostum yang cantik dan berfilosofi tinggi.

Alkisah, Putri Bunian yang datang dari Kayangan, bersama pengawalnya, seekor Harimau turun ke bumi untuk makan ikan. Putri itu, mengambil (mencuri, red) dari lukah Ombak Nyalo. Seorang Datuk negeri di Pangean yang berwibawa dan disegani. Karena kesaktiannya, sang datuk menangkap si putri dan pengikutnya, lalu dihukum sesuai dengan adat yang berlaku di kawasan itu. Apalagi, sang putri mengaku tidak memiliki negeri dan juga adat istiadat. Mau tidak mau, putri mengikuti hukum adat di Pangean tersebut.

Sumber inspirasi dari legenda itu membuatnya bekerja keras menemukan, bahan-bahan yang tepat serta kekinian. Di sini, Tiara menggunakan ‘sasampek’ sebagai aksesoris di atas kepala. Jika dalam legenda, sasampek diisi dengan beragam makanan, maka di desain dan dikolaborasikan dengan mahkota. Alasannya, karena putri itu orang yang besar di tempat asalnya. “Pada sasampek, saya memodifikasinya setengah saja dan hasilnya cukup menarik,” ujar Tiara.

Khusus untuk baju yang dikenakan pada kostum itu, dia memadumadankan dua motif, yakni motif di kiri dan di kanan. Di kiri, terkesan mewah sebagai lambang kejayaan seorang putri. Sedangkan di kanan, motifnya menggunakan takuluk barembai, buah tradisi yang ada di Pangean. Bentuknya, seperti rompi setengah. Sedangkan bagian bawah, dibuat semacam potongan-potongan kain atau cutting e-line. Ini merupakan simbol dari hati seorang putri yang terpisah-pisah akibat kondisi malang yang dihadapinya.(fed)





Berita Terkait
Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif | Aktifitas |