Leadership di Zaman Disruption

Oleh Irvandi Gustari
Leadership di Zaman Disruption
Kamis, 07 Desember 2017 - 10:16 WIB > Dibaca 879 kali
 

RIAUPOS.CO - LEADERSHIP akan menjadi penentu keberhasilan agar tetap eksis dalam zaman disruption yang dibungkus dalam kemasan  digitalisasi ini. Pada era perubahan berbagai sektor secara signifikan itu, kita kerap kali terjebak pada suatu mind set, seolah-olah yang menjadi penentu dari eksistensi suatu perusahaan dalam bertahan hidup melewati era disruption adalah pada kecanggihan sistem teknologi yang dimiliki.

Padahal dari berbagai riset ilmiah, kita bisa mendapatkan hasil survei bahwa yang menjadi tulang punggung bisa sukses menghadapi dan melewati proses perubahan itu adalah aspek leadership. Yang dimaksud dengan leadership di sini bukan hanya pola kepemimpinan dari pimpinan tertinggi misalnya presiden direktur, namun leadership yang dimaksud adalah pola kepemimpinan pada semua jajaran pemimpin pada suatu organisasi atau perusahaan itu.

Ya, memang secanggih apapun teknologi yang dimiliki suatu perusahaan, tetap saja aspek manusialah yang menjadi penentu utama dalam membawa perusahaan itu menjadi maju pesat atau sebaliknya hancur lebur. Dengan demikian aspek leadership adalah  bagaimana seni dari memimpin dari para manusia yang ada di dalam perusahaan itu untuk mencapai tujuan yang telah disepakati. Membahas aspek leadership di zaman disruption ini memang menarik dan membuat kita penasaran. Kita harus sepakat dulu bahwa pembahasan kita dibatasi pada 3 dimensi saja. Sehingga kita juga tidak terjebak dengan bahasan yang bertele-tele.

Dimensi  pertama adalah kita tinjau dari sudut padang power atau kekuasaan. Kita kerucutkan saja pada 2 aspek  leadership  yang menonjol pada era disruption ini yaitu legitimate power versus charismatic power. Secara singkat legitimate power dalam memimpin biasanya si pemimpin selalu mengandalkan kekuasaan formalnya untuk mengatur para bawahanya. Sedangkan charismatic power dalam mengelola perusahaan maka si pemimpin akan condong lebih mengedepankan tingkat kompetensi yang jauh lebih tinggi dari para pemimpin dibanding segenap bawahannya. Sehingga para bawahan akan segan dan sungkan kepada para pemimpinnya. Dalam era digital, pemimpin yang diterima dan didukung bawahannya adalah pemimpin yang dikagumi dan disegani karena tingginya kompetensi yang dimiliki dibandingkan para bawahannya. Jadi, memang tidak zamannya lagi mengatur anak buah pakai kekuasaan, namun jauh lebih effektif pakai cara, bahwa si pemimpin punya tingkat kompetensi yang jauh lebih tinggi secara terukur dan tidak sekadar mengaku lebih pintar dari bawahan.


Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif | Aktifitas |