Hidup yang Layak Dikaji
10 September 2016 - 23.40 WIB > Dibaca 3314 kali
 

KADANG, saya merasa, yang terdengar riuh-rendah dalam jagat sastra kita bukan semata pembicaraan ihwal teks (karya sastra), tapi (justru) cerita-cerita di luar teks. Cerita-cerita itu, kadang, malah betul-betul berada jauh dari halaman rumah teks, jauh dari lingkungan tetangga teks. Tetapi anehnya, kesibukan kita (orang-orang sastra sendiri) membicarakan (mengurusi) cerita-cerita itu, sepertinya lebih menyita waktu, ketimbang berlama-lama mengupas tubuh teks.

Apakah karena Foucault (seorang post-strukturalis) pernah bilang, “sastra hanya berurusan dengan dirinya sendiri,” maka kita pun cenderung “membiarkan” teks-teks sastra itu liar, berkelana sendirian di dunia pembaca. Lalu, kita (para penulisnya) mengurus hal-hal yang di luar teks saja—toh karya sastra yang telah diciptakan itu akan ditentukan nasibnya oleh waktu. Dan, bukankah dengan begitu, para kritikus pun menjadi lebih “ringan” kerjanya?

Atau, sebetulnya kita tidak sedang membiarkan teks-teks itu sendirian menemukan takdirnya, akan tetapi justru kita hendak meneriakkan pada dunia bahwa sastra itu, tidak bisa hidup dan berkembang tanpa hal-hal yang berada di luar tubuh teks sastra itu sendiri. Maka, urusan-urusan di luar teks semisal; penerbitan, distribusinya, komunitas, iven-iven sastra, pedidikan sastra, penyandang dana, peran pemerintah, penerjemahan, honorarium tulisan, produktivitas, pembaca sastra, sampai pada politik sastra, menjadi tak dapat diabaikan.
Bahkan, ketika urusan-urusan di luar teks itu kemudian meluas sampai pada cerita-cerita tentang kehidupan pribadi si penulisnya, tentang keluarganya, tentang kebiasaan-kebiasaan buruknya, tentang percintaannya, tentang masa lalunya, dan lain sebagainya, maka teks-teks sastra (yang diciptakannya) kian tak tersentuh. Cerita-cerita itu, kadang, lebih heboh dari karyanya. Dan sesaat kemudian, ia masuk dalam ranah gosip, ranah selebritas sastra, ranah budaya-massa.  
Maka, tokoh-tokoh sastranya (para penulisnya), dengan begitu, kembali menjadi locus subyek yang dilahirkan di luar teks, menjadi—meminjam Goenawan Mohamad—si Malin Kundang, yang “mendurhakai” teks-teks yang diciptakannya (sekaligus yang melahirkannya) sendiri. Betapapun misalnya ia, si pengarang, diperbincangkan sebagai “orang lain” (the others), ia tak akan dapat dengan mudah melepaskan pakaian pengarangnya dari badan. Tak mudah untuk keluar dari stigma kesastrawanannya.
Agaknya, dalam posisi seperti itu, bagaimana kalai kita kembalikan peran dan fungsi pengarang—sebagaimana yang disebut Foucault—sebagai “pendistribusi wacana.” Sebab seorang author, kata Foucault, fungsinya (dalam kehidupan masyarakat pembaca) bersifat ekstra-linguistik, atau ekstra diskursif. Maka, seolah, apapun peristiwa yang terjadi pada diri subyektif pengarangnya, apapun yang dikabarkannya, dianggap sedang mendistribusikan wacana sastra. Dan harus ditelisik tidak semata pada teks, tapi konteks. Tidak berhenti pada material, tapi isi. Tidak semata factum, melainkan fictio.
Dan jika kemudian muncul anggapan bahwa kehidupan pengarang itu, sesungguhnya adalah fiksi itu sendiri, adalah sastra itu sendiri, di satu sisi telah membuat kita tidak terlalu risau pada perkembangan teks-teks sastra yang terus lahir. Sebab, dengan begitu, pengarang bukanlah “cerita yang berada di luar teks” sastra itu, bukan?
Lalu, jika Socrates pernah bilang, “hidup yang tidak dikaji, adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi,” apakah itu artinya, hidup pengarang itu termasuk “yang layak dikaji”?***

Dahlan Iskan | Azrul Ananda | Yusmar Yusuf | Chaidir | Taufik Ikram Jamil | Marhalim Zaini |