Penyair dan Rokok
27 Agustus 2016 - 21.05 WIB > Dibaca 3456 kali
 

SAYA tidak tahu persis, kapan rokok dan penyair itu seolah menjadi identik.
Apakah sejak foto pose Chairil Anwar tengah mero­kok itu beredar, lalu demikian populer.
Ditemukan di mana-mana, di buku, di poster, di tembok, sampai pula foto itu di kamar-kamar para penyair. Dan lalu, para penyair lain, turut meniru gaya foto Chairil sambil merokok itu,  termasuk WS Rendra.

Dulu, hemat saya, memang demikianlah sebagian penyair diidentikkan (entah oleh sebuah konstruksi sosial tertentu): perokok, gondrong, kumal, berjaket, celana robek, suka begadang, nomaden, bahkan bertato, dan sejenisnya. Saya, sempat merasakan zaman itu.
Rasanya, dengan “gaya hidup” semacam itu, para penyair tengah membangun identitas  dirinya di lingkungan masyarakat yang “mapan.” Dengan cara itu, justru penyair merasa  “dapat tempat.”

Sebab, dunia puisi, sama halnya dengan dunia seni yang lain, adalah dunia  kreativitas—yang kata Albert Camus—identik dengan pemberontakan. Penyair, seolah  tengah membawa ideologi “pemberontakan” itu, melalui gaya hidupnya itu. Anti-kemapanan, demikian dulu kerap didengungkan. Atau, “kaum urakan” istilah Rendra. Dan rupanya,  identitas itu cukup berhasil mempengaruhi cara pandang masyarakat umum terhadap penyair.

Dan lalu, masyarakat permisif, penyair tambah enjoy. Meskipun kemudian,  dalam perkembangannya, begitu zaman melahirkan generasi masyarakat baru, timbul  pertanyaan-pertanyaan pada penyair—yang juga kerap saya hadapi dalam sejumlah  kesempatan—apakah penyair harus gondong, harus merokok, harus pakai baju belel, harus  urakan, dll. Jawaban saya tergantung siapa yang bertanya; kadang politis, kadang ideologis,  kadang juga apologis.

Dan pertanyaan semacam itu kemudian, rupanya membuat perlahan-lahan turut  merubah identitas penyair itu. Yang gondrong, tidak banyak lagi. Pakaiannya, hampir tidak  ada yang belel. Rapi-rapi, bahkan wangi. Maka muncullah sebutan “sastra wangi”, “sastra  salon”, “sastra kafe”, dan sejenisnya. Sebutan yang dulu amat dibenci Rendra; “Aku bertanya/ tapi pertanyaanku/ membentur jidat penyair-penyair salon,/ yang bersajak tentang anggur dan rembulan...” (dalam “Sajak Sebatang Lisong”).

Meski yang lain boleh be­rubah, tapi merokok nampaknya tidak. Penyair dan rokok, ditambah kopi, masih tetap bertahan sebagai sebuah gaya hidup (tentu tidak se­mua pe­nyair). Apalagi kopi, teman si rokok itu, makin digemari orang, bahkan makin populer.

Bedanya, kalau kopi kerap menjadi inspirasi dan masuk dalam teks sastra, rokok tidak selalu demikian. Rokok, masih dianggap (oleh sebagian penulis) sebagai “teman baik” saat menulis.
Rokok, mungkin tidak menjadi inspirasi sebagaimana kopi, tapi (konon) ia dapat menjemput inspirasi.

Tentu, tidak semua penyair begitu. Taufiq Ismail, adalah salah satu dari yang tidak banyak, yang dengan lantang menolak rokok, terutama dalam puisi “Tuhan Sembilan
Senti.” Taufiq—yang me­mang tidak perokok itu—menulis, “Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok..”
Dan dengan begitu, lanjut Taufiq, “Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,/ diam-diam menguasai kita...”

Dan akan lain lagi puisi yang lahir dari seorang perokok (setidaknya mantan perokok) seperti Rendra: “Menghisap sebatang lisong/ melihat Indonesia Raya, mendengar 130 juta rakyat,/ dan di langit/ dua tiga cukong mengangkang/ berak di atas kepala mereka...” Lalu, apakah para penyair kini akan menjadi perokok atau tidak? Tentu, akan tergantung pula pada harga rokok yang konon akan naik selangit. Jangan sampai, mulut  berasap tapi dapur tak berasap.***

Dahlan Iskan | Azrul Ananda | Yusmar Yusuf | Chaidir | Taufik Ikram Jamil | Marhalim Zaini |