Bahasa Ibu dan Anak-Anak Milenial

OLEH UDJI KAYANG ADITYA SUPRIYANTO
Bahasa Ibu dan Anak-Anak Milenial
Minggu, 13 Agustus 2017 - 00:54 WIB > Dibaca 4739 kali
 
BAHASA senantiasa melimpah bahasan. Bahasa selalu aktual untuk dipersoalkan. Bahasa lahir dalam suatu zaman. Bahasa lantas bertumbuh-kembang, bergerak, berlari-berkejaran dengan zaman. Bahasa sering pula diperkelahikan dengan zaman. Berbahasa seakan berarti pertarungan, pertengkaran, perkelahian melawan zaman yang menyerang kita dengan teknologi, budaya, atau ringkasnya: pengetahuan. Kita ibarat anak kecil saat berkelahi dengan bahasa. Ketika tahu lawan sebegitu kuatnya, kita berlari ke rumah, sesenggukan, lalu mengadu pada ibu. Semasa kecil kita memang memiliki hobi berlindung pada ibu.

Kita yang semakin dewasa mulai sadar kian berjauhan dengan ibu, semakin berjauhan pula dengan bahasa ibu. Kita merindu, namun tak sempat pulang padanya dengan beragam alasan yang terangkum dalam abai dan sibuk. Kita suka mengakumulasi salah dan alpa berbulan-bulan, hingga menggenap setahun, kemudian melimpahkannya pada ibu saat lebaran tiba. Maaf tahunan berdalih momentum, alih-alih diakui sebagai rutinitas berhitungan waktu tertentu atau keharusan yang dilegitimasi tradisi. Menyadari keberjarakan dan pengabaian ibu berjangka waktu tahunan. Mengakrabi bahasa ibu jadi peristiwa jarang-jarang.

Kita sering mendengar kabar bahwa ibu sedang sakit, bahkan sudah dalam kondisi kritis. Kabar sampai ke kita lewat sekian esai serius yang ditulis para pakar kebahasaan. Kabar juga bertebaran di tengah arus keluh-kesah media sosial. Para pembela ibu selalu berusaha mengingatkan kita, tanpa muluk-muluk menabur tanda pagar #MenolakLupa. Para pembela ibu ingin kita meninggalkan kesibukan manusia modern yang selama ini kita imani, untuk pulang barang sejenak menjenguk ibu. Kita butuh pulang menjumpa ibu, merawat bahasanya yang sakit-sakitan dan kritis itu.

Kita baru berniat pulang menjenguk ibu, sementara James T. Collins telah sampai lebih dahulu. Dalam buku Bahasa Melayu Bahasa Dunia: Sejarah Singkat (2005: 4), ia menyebut bahwa di masa lampau bahasa Melayu menghidupi wilayah-wilayah perairan. “Penutur bahasa Melayu purba, nenek moyang dari semua dialek bahasa Melayu yang masih ada dan yang sudah punah, mendiami daerah khusus secara ekologis: rawa-rawa, tanah basah, delta, dan pantai dari daerah sistem sungai di Kalimantan Barat,” papar Collins. Sementara kita mungkin lupa, lantas mencari-cari rumah ibu dengan panduan GPS, Collins sudah bertemu muasal bahasa ibu.

Anak-anak ibu tak melulu serajin-sebudiman Collins. Di rentang tahun 1980-2000 ibu melahirkan anak-anak dengan cara dan gaya hidup baru yang tak terbayangkan oleh generasi sebelumnya. Khalayak menamai anak-anak belia ibu sebagai generasi Y, atau sebagian lainnya menyebut mereka sebagai millennials atau milenial. Anak-anak belia ibu telah menjelma generasi yang berambisi mencari bahagia dan optimis menatap masa depan cerah, secerah limpah warna pada gelaran khas milenial: The Color Run. Anak-anak milenial kenyang dimanjakan bahasa ibu sejak kecil, lantas memutuskan berkelana di semesta kreatifnya sendiri, menemukan bahasa-bahasanya sendiri.

Ibu berusaha mengejar deru langkah cepat anak-anak itu lewat pengusulan istilah dari kamus rahimnya: langgas. Ibu bermaksud menyebut anak-anaknya “tidak terikat kepada sesuatu atau kepada seseorang; bebas.” Langgas juga bersinonim dengan “bebas, berlapang-lapang, independen, lega, leluasa, merdeka.” Ibu bersungguh-sungguh dalam menyemat bahasa. Ibu berharap kesungguhannya terdukung penerbitan buku Generasi Langgas: Millennials Indonesia (2016) garapan Yoris Sebastian, Dilla Amran, dan biro riset Youth Lab. Buku yang tampil sangat ngepop dan terpajang di rak buku psikologi populer atau pengembangan diri itu diterbitkan Gagas Media. Ibu sungguh menggagas bahasa anak-anaknya.

Perjuangan ibu lebih mungkin berujung kecewa. Bahasa langgas yang dilahirkan dari rahimnya sekadar istilah sampingan belaka, alias sebutan ketiga setelah milenial dan generasi Y (yang harus dibaca ‘generasi wai’ bukan ‘generasi ye’). Ibu juga dibikin kecewa oleh buku yang dikira mendukungnya, ternyata berlimpahan bahasa asing dari luar rahim negeri. Rupanya anak-anak milenial telah menemukan ibu tiri, pengganti ibu yang sakit-sakitan dan butuh perawatan itu. Ibu kita memang rapuh, sering masuk angin gara-gara bahasanya bermukim di rawa-rawa, pantai, dan sungai.

Anak-anak milenial telah memiliki ibu tiri. Ibu tiri mereka jauh lebih cantik dan tinggi seperti peragawati. Ibu tiri punya sayap seperti busana Kezia Warouw di gelaran Miss Universe 2017. Gelaran itu mengingatkan kita kepada Donald Trump, dan benar saja: ibu tiri memang berbahasa seperti orang-orang di negeri Trump! Sayap ibu tiri menerbangkan bahasanya tinggi ke langit, menjelma satelit pemancar jaringan internet ke bumi yang bersimpuh di bawah telapak kakinya. Dari ketinggian itu, ibu tiri menurunkan bahasa langit sebagai hujan: membasahi, membanjiri, dan membuat masuk angin bahasa ibu di rawa-rawa semakin menjadi.

Sementara bahasa ibu kita masuk angin, anak-anak milenial menyambut hujan bahasa ibu tiri dengan senang, syahdu, dan romantis. Mereka lalu mengeluarkan mainan pemberian ibu tiri dari saku, memotret hujan bahasa, dan merayakannya di media sosial. Segala aktivitas itu menunjukkan kasih sayang dan bakti tinggi pada bahasa ibu. Bahasa ibu sebelumnya tak sanggup menerjemahkan tuntutan anak-anak, seperti: wifi, browser, marketplace, coworking space. Bahasa itu hanya mungkin didapati anak-anak milenial dari ibu tirinya. Sebab, ibu tiri datang membawa pengetahuan yang susah terbahasakan ibu sebelumnya. Sungguh, kita tidak sedang menghadapi kekalahan bahasa, kita kalah secara pengetahuan. Begitu kencang pengetahuan berkembang, sehingga bahasa ibu kita terengah-engah mengejarnya. ***






Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif |