Ibu dan Senja

CERPEN YEYEN KIRAM
Ibu dan Senja
Minggu, 13 Agustus 2017 - 00:35 WIB > Dibaca 781 kali
 
Akhir-akhir ini, aku melihat Ibu paling suka menghabiskan waktunya, duduk di beranda atas rumah kami, setiap sore. Menurutku, tak ada menariknya tempat itu. Karena hanya bisa menyaksikan seliweran kendaraan yang lalu lalang, hilir mudik tidak henti-hentinya. Sehingga, membosankan. Bahkan jika cuaca sedang terik, maka panas udara yang naik, akan terasa lebih menyengat, membumbung menjelajahi beranda tersebut. Apalagi, letaknya terbuka menantang arah matahari menepi. Udara berterbangan, renyah bebas membawa debu dari jalanan yang selalu bising. Jadi sungguh tidak ada istimewanya, jika memilih tempat buat duduk di situ. Tempat tersebut hanya berguna  membantu mengirimkan cahaya sebanyak-banyaknya ke dalam ruangan lain, di lantai atas bangunan rumah.

Tetapi tidak  demikian bagi Ibu. Seperti biasanya, dari balik jendela kamar aku menyaksikan  Ibu sedari tadi,   hanya duduk diam saja di atas kursi plastik yang terdapat di tengah beranda. Sementara tanganya, tak lepas menggenggam jarum renda dengan benang berwarna krem tanah. Sebuah buku cukup tebal, tergeletak setengah terbuka, disebelah satunya lagi.
Ibu memang tidak pernah diam. Kalau tidak membaca, maka dia akan mengisi waktunya dengan merenda. Kata Ibu, hidup perempuan layaknya seumpama renda. Kadang harus diputar, ditekuk, ditarik, atau di sembunyikan agar helaian benang yang tadinya lurus, menjadi anyaman renda yang indah dan berguna. Ibu memang sangat mahir dengan ketrampilan yang satu ini. Kuakui, hasilnya desain rancanganya sangatlah bagus, halus dan rapi. “Sesuatu yang dikerjakan dengan hati, maka hasilnya takkan sia-sia ," begitu kata Ibu setiap aku dengar orang memuji-muji hasil anyaman renda-rendanya tersebut.

Tapi aku tahu,  sore ini Ibu duduk di beranda  bukan untuk merenda maupun membaca. Ia hanya ingin duduk saja menghabiskan waktu. Seolah sedang menatap sesuatu, pandanganya begitu hanyut. Hingga Ibu sampai tidak menyadari kalau adzan Maghrib dari loudspeaker Mesjid di dekat rumah kami, sudah lantang memanggil segera menunaikan ibadah wajib tersebut.

Kebiasaan baru Ibu ini, memang tidak mengganggu siapapun. Kecuali Bapak, lelaki yang menikahi Ibu selama berpuluh tahun. Melahirkan kami, tiga orang anak yang mulai menuju remaja dan dewasa. Bapak akan selalu uring-uringan, jika sebentar saja Ibu lepas dari pandangan. Ia akan langsung mengomel, seolah bertahun diabaikan Ibu. Maka hanya sebentar saja, teriakan-teriakan Bapak segera ramai memenuhi setiap sudut ruang, yang tak putusnya berteriak memanggil Ibu.

Sesungguhnya aku tak pernah tahu secara persis. Sejak kapankah Ibu kehilangan suara dan kegembiraanya di dalam rumah ini. Ibu sudah lama tidak pernah kulihat tersenyum, apalagi tertawa lepas seperti ibu-Ibu lainya. Kami anak-anaknya, nyaris tidak lagi mengenali bagaimana nada tawa Ibu. Atau bagaimanakah rupa senyum,  jika Ibu sedang berbahagia.
Padahal menurut penuturan teman-teman sebaya, serta saudara-saudara Ibu yang sempat aku temui, pada dasarnya beliau adalah seorang yang sangat periang, dan penuh gembira. Sering suasana akan berubah lebih hidup jika ibu sudah datang bergabung.

***

Hingga berpuluh tahun kemudian, barulah aku tahu apa jawaban dari semua pertanyaanku, tentang Ibu. Memang saat itu aku masih berusia belasan tahun, masih terlalu naif dan muda untuk bisa memahami arti kehidupan perempuan dan airmatanya. Aku baru mengerti  setelah dua puluh lima tahun, kenapa Ibu menyukai senja. Kenapa Ibu setia, dengan air mata. Bisa jadi dikarenakan, sekarang aku sudah hampir seusia Ibu waktu itu. Juga telah menjadi Ibu bagi sepasang anak-anakku. Jawaban bagi rahasia Ibu, kutemui akhirnya setelah melalui perjalanan waktu. Tepat sepuluh tahun setelah kematian Ibu, ketika siang itu aku berkesempatan mengunjungi makam Ibu.

Makam itu hanya bisa kuziarahi empat atau enam bulan sekali saja, karena berbeda tempat dengan kota dimana aku tinggal sekarang. Tetapi setiap aku menziarahi, makam tersebut selalu dalam keadaan bersih dan sangat terawat. Pokok rerimbunan mawar putih kesukaan Ibu, tumbuh dengan puluhan kuntum bunga yang menyebar wangi, mengelingi gundukan tanah makam yang diselimuti rerumputan jepang halus. Benar-benar terawat dengan sempurna dan indah. Apalagi jika dibandingkan dengan makam lainya di sekitar. Apakah kebaikan dan cinta Ibu ketika masih hidup yang telah merawat mawar ini ? Entahlah.

Menurut penjaga makam yang kutemui, hampir setiap minggu makam Ibu dikunjungi seorang lelaki dengan teratur. Menanam dan merawat dua pokok kamboja jepang warna ungu sebagai peneduh, dan beberapa batang mawar putih. Mengirim doa dengan khusuk, menciumi pusara dari marmer kelabu, penuh rasa. Juga tentunya, membersihkan dari dedaunan yang berguguran di atas gundukan makam. Aku jadi penasaran, siapakah gerangan lelaki itu?

Rasanya jika Bapak yang dimaksud, tidaklah mungkin. Selain karena telah ringkih untuk sendiri ke pemakaman, Bapak bukanlah orang yang sentimentil dan romantis. Bagi Bapak, orang yang sudah meninggal, ya sudahlah. Kmatian telah mengakhiri segalanya, bagi Bapak. Bahkan, datang menziarahi makam kedua orangtuanyapun, seingatku Bapak tidak pernah melakukanya. Apalagi, akan mengunjungi makam Ibu, rasanya mustahil.

Pada kunjunganku kali ini ke makam Ibu, Tuhan mempertemukanku dengan lelaki misterius yang setia merawat dan mengunjungi makam Ibu, sebagaimana kabar dari penjaga makam. Dari jarak dua meter sebelum ke pusara, benarlah aku melihat seorang lelaki yang menua, terpekur duduk di sisi kanan makam. Sisi wajahnya terlihat bersih, menyisakan kekuatan dan ketampanan masa muda. Aku melihat lelaki itu lama menunduk, sepertinya khusu’
memanjatkan doa buat Ibu. Sesekali tanganya, melap air mata yang menetes satu dua, dari balik lamur matanya. Jemari lelaki itu meraba lembut setiap butiran tanah dan rerumputan yang menyelimuti tanah pemakaman. Aku terkesima oleh pemandangan yang sangat mengharukan itu... “ I Love u honey...., I am always miss and need you... .I can’t stop loving you..! “...terdengar bisik parau dari lelaki itu, sembari menciumi batu nisan Ibu.

Oh, alangkah akan bahagianya Ibu mendengar kata-kata cinta tersebut di dalam sana, bisikku. Tanpa sadar, beberapa tetes air mata mengulir dari kelopak mataku. Aku tahu, sepanjang kami hidup bersama Ibu, tidak pernah sekalipun almarhumah mendengar ucapan mesra tersebut. Karena saat  hidup dengan Bapak, yang kami ketahui, hari-hari Ibu hanya dipenuhi dengan teriakan, umpatan, omelan, dan caci maki Bapak yang tidak tahu rimbanya.
Tiba-tiba, aku terkesima. Rasanya, aku pernah mengenal kata-kata cinta seperti itu. Dimanakah ?

Selagi aku sibuk memikirkanya, lelaki itu rupanya sudah menengadah memandangku. Ia sejenak terpaku, seolah sedang memikirkan sesuatu. Raut wajahnya, terlihat lebih tampan lagi dari yang kulihat pertama tadi. Berkulit putih bersih, sejuk, dengan garis yang tegas. Hidungnya mancung, dengan rambut yang rapi meski telah memutih karena usia. Caranya memandangku kemudian, seperti menyiratkan bahwa ia merasa pernah mengenaliku.

 “Bukankah, kamu Azela, anak perempuanya Renata, ya?“ Lelaki itu langsung berdiri, menyodorkan tanganya dengan kokoh untuk kujabat. “Aku Fay...mungkin kamu tidak kenal, tapi Ibumu sering bercerita tentangmu ketika masih hidup dulu..Apa kabar, Azela?”

Aku hanya mengangguk, sambil masih bersigantung pada kebingungan dan pertanyaan dalam pikiranku, yang sibuk menjelajahi ruang-ruang daya ingatku. Siapakah Fay? Pernahkah aku mendengar nama ini sebelumnya Fay...?.Fay...? Ah, lama aku menjemput pelbagai ingatan tentang nama itu!

Yup!...Akhirnya aku ingat, sebuah nama di file handphone milik Ibu yang menjadi awal dari bencana ini semua. Di dalam sebuah pesan tertulis jelas, “ I can’t stop loving u, my honey...”.
Tiba-tiba seluruh lapisan langit berdentam gemuruh, membahana seperti saling berebutan turun menimbunku. Duniapun berputar, menendang-nendang ulu jantung dan hatiku dari tiap penjuru ruang. Berkerjaran, saling menghajarku. Mampuslah kau sekarang, Azela ! Kau rasakan kini pembalasan dari kebodohanmu itu!....Suara itu bertalu-talu, bersiponggang menghajar pendengaranku. Menikam, mencabik-cabik.



Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler |