Keheningan “Situs” di KABA Festival

TEATER
Keheningan “Situs” di KABA Festival
Minggu, 13 Agustus 2017 - 00:10 WIB > Dibaca 1952 kali
 
“Merasa, mendengar, dan melihat adalah tiga unsur yang selalu diolah oleh tubuh. Nikmatilah dan kemudian dia akan menjadi sebuah cahaya. Itulah karya,” ungkap pimpinan Kurator helat KABA Festival 4, Ery Mefri.

Perhelatan seni pertunjukan tahunan yang menjadi salah satu program Nan Jombang Group itu berlangsung, 2-5 Agustus 2017 di Taman Budaya Sumatera Barat (Sumbar), Kota Padang.

Helat level internasional yang diikuti empat negara seperti Belanda, Jepang, Taiwan, dan Indonesia tersebut menampilkan kuranglebih 13 karya seni berupa tari, teater, dan musik. Paling tidak, karya-karya terbaik dari hasil proses panjang para seniman itu mendapat apresiasi tinggi dari pengamat seni pertunjukan, produser, manajer program, direktur festival seni pertunjukan, serta penikmat seni.

Ery Mefri selaku Pimpinan Nan Jombang yang sudah berkeliling empat benua besar, selain Afrika menjelaskan, KABA Festival digelar berkat kerja sama Nan Jombang, Gelombang Minangkabau. Program tahunan ini berkaitan dengan dua program yakni Nan Jombang Tanggal 3 yang merupakan festival bulanan untuk seni tradisional Minangkabau, dan Seniman Bicara di Akhir Bulan yang menjadi forum seniman dalam ranah sastra, teater, musik, tari, senirupa dan sebagainya.

“Artinya, karya apa pun yang ditampilkan di KABA Festival merupakan artikulasi gagasan-gagasan yang telah didiskusikan dalam dua program itu,” ungkap Ery Mefri.

Salah satu komunitas asal Riau yang diundang pada perhelatan tersebut adalah Lembaga Teater Selembayung, selain PLT Laksemana. Teater Selembayung pimpinan Fedli Azis ini menyuguhkan karyanya berjudul “Situs”. Karya yang langsung disutradarainya tersebut tentu saja mendapat apresiasi dari para penonton yang memadati gedung pertunjukan Taman Budaya Sumbar. Karya berupa teater tubuh berdurasi 20-an menit itu mewarnai KABA Festival 4 lalu karena terbilang inspiratif dan inovatif.

Fedli mengatakan, “Situs” sendiri telah berproses selama dua tahun dan sebelumnya dipentaskan diperhelatan Pasar Tari Kontemporer (Pastakom) di Kota Pekanbaru, 2016 lalu. “Kami terus berkutat dan bertungkuslumus untuk menyempurnakan karya ini. Layaknya sebuah karya, “Situs” tidak akan pernah berhenti. Ia akan terus bergulir sebab bagi kami, pementasan adalah awal dari proses yang baru,” ungkap Fedli.

Komunitas dan karya-karya yang diundang pada KABA Festival 4 lalu antara lain; Asa Etnica (Padangpanjang-Sumbar), Ranah Performing Arts Company (Padang-Sumbar), Impessa Dance Company (Padang-Sumbar), Komunitas Seni Nan Tumpah (Padang-Sumbar), Nan Jombang Dance Company (Padang-Sumbar). Selain itu, PLT Laksemana (Pekanbaru-Riau), Lembaga Teater Selembayung (Pekanbaru-Riau), Gerard Mosterd (Amsterdam-Belanda), Delphine Mei & Artists Dadadaiii (Taiwan), Natural Dance Theatre (Tokyo-Jepang), dan Rianto (Solo – Jepang). Teristimewa di helat tersebut tampil tiga maestro tari Indonesia yakni Ery Mefri, Miroto, serta Mugiyono.  

“Perhelatan ini juga kami dedikasikan untuk Maestro Tari Adok dan Tari Piriang Minangkabau, Manti Menuik Jamin jo Sutan yang juga ayah kandung saya,” aku Ery Mefri.(why)




Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif |