Filosofi Hidup dalam Permainan Tradisi

TRADISI
Filosofi Hidup dalam Permainan Tradisi
Minggu, 13 Agustus 2017 - 00:03 WIB > Dibaca 746 kali
 
Hidup perlu keseimbangan. Begitu juga dalam memainkan gasing, layang-layang dan congkak sebagai permainan tradisi. Di dalam permainan ini, ada filosofi hidup yang perlu diketahui dan dipelajari.

Laporan Kunni Masrohanti, Pekanbaru

Di tengah kemajuan teknologi saat ini, hampir semua permainan tradisi terlupakan. Anak-anak masa kini bisa dikatakan asing, bahkan tidak lagi tahu tentang permainan nenek moyang mereka itu, apalagi tentang makna dan filosofi dalam permaianan tersebut.

Di sinilah pentingnya melestarikan permainan tersebut, baik dengan cara menggelar lomba atau sekedar pertunjukan biasa. Ini jugalah yang menjadi dasar mengapa Dinas Kebudayaan Riau menggelar berbagai perlombaan tradisi tersebut beberapa waktu lalu sempena hari jadi Provinsi Riau.

Tiga permainan tradisi tersebut yakni gasing, layang-layang dan congkak. Ketiganya merupakan permaianan rakyat Indonesia (bukan hanya Riau). Gasing misalnya. Di Jakarta dan Jawa Barat gasing dikenal dengan nama panggal, di Lampung masyarakat menyebutnya pukang, di Jambi, Bengkulu, Tanjungpinang, dan wilayah kepulauan Riau, Sumatra Barat dikenal dengan gansing atau gasing, di Kalimantan Timur begasing, Bali megangsing, di Nusa Tenggara Barat magasing, dan di Maluku, Apiong.

Di antara sejumlah permainan tradisional lainnya, gasing termasuk paling populer. Gasing merupakan permainan untuk kaum laki-laki. Gasing terdapat di mana-mana. Berbagai daerah banyak memiliki permainan gasing dengan ciri khasnya masing-masing. 

Gasing sering diasosiasikan dengan permainan anak-anak. Padahal, banyak remaja dan orang dewasa memainkannyag. Gasing adalah mainan yang bisa berputar pada poros karena faktor keseimbangan pada suatu titik. Harus seimbang. Bagian-bagian kayu yang membentuk gasing juga harus rapi. Begitu juga kehidupan. Akan mulus dan sejahtera jika terjadi keseimbangan.

Filosofi yang tersimpang di sebalik gasing yang membuat permainan ini bukan permainan biasa.
Diperkirakan gasing merupakan mainan tertua di dunia. Artefak ini  banyak ditemukan pada berbagai situs arkeologi di banyak negara. Sejauh ini dapat dikatakan gasing merupakan permainan yang bersifat universal, dalam arti ada di berbagai kebudayaan dunia.

Gasing tradisional dibuat dari kayu,  dimainkan menggunakan tali, yang umumnya berasal dari kulit pohon.  Sementara gasing modern terbuat dari plastik atau bahan-bahan sintetis, dimainkan menggunakan tali nilon atau benang bol.  Panjang tali gasing berbeda-beda, tergantung pada ukuran gasing dan panjang lengan orang yang memainkan.

Bahan pembuatan gasing biasanya bagian terkuat dari kayu yang terletak pada bagian tengah atau bagian akar. Jenis-jenis kayu itu, antara lain Menggeris, Pelawan, Kayu Besi, Leban, Mentigi, dan sejenisnya. Penggunaan jenis kayu tentu saja sangat dipengaruhi faktor geografis atau daerah. Pembentukan kayu menjadi sebuah gasing umumnya menggunakan peralatan tradisional berupa parang, golok, pisau, pecahan beling, dan ampelas.

Gasing dimainkan dengan cara dilempar atau ditarik, selalu berputar untuk beberapa saat. Lama waktu berputar sangat tergantung kepada keterampilan si pemain. Interaksi bagian kaki (paksi) dengan permukaan tanah membuat gasing bisa tegak. Setelah gasing berputar tegak untuk sementara waktu, momentum sudut dan efek giroskopik berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya bagian badan terjatuh secara kasar ke permukaan tanah. Gasing yang baik dapat berputar dengan lancar dan enak dilihat.  Bahkan pemain yang terampil mampu membuat gasing berputar di atas ujung jarinya.

Permainan gasing biasanya menggunakan tempat di pekarangan rumah atau tanah lapang yang kondisi tanahnya keras dan datar. Permainan ini dapat dilakukan secara perorangan ataupun beregu. Jumlah pemainnya bervariasi, tergantung kebiasaan di daerah tertentu. Hingga kini, gasing masih tetap populer. Permainan ini banyak ditemukan di sejumlah daerah di Indonesia. Bahkan warga di beberapa provinsi rutin menyelenggarakan kompetisi atau festival gasing dalam rangka promosi pariwisata.



Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler |