Berbicara Sendiri Ternyata Dapat Menghilangkan Stres
Jumat, 04 Agustus 2017 - 10:58 WIB > Dibaca 2997 kali
 
JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Berbicara sendiri bukan berarti Anda gila. Malah, semakin sering Anda berbicara sendiri itu menandakan Anda sosok yang benar-benar cerdas. Hal ini diungkapkan oleh sebuah penelitian baru di Scientific Reports yang melibatkan dua percobaan terpisah.

Penelitian yang dilakukan oleh para periset dari Michigan State University dan University of Michigan memantau aktivitas otak 29 orang siswa. Para siswa diminta untuk melihat gambar yang netral dan yang mengganggu. Kemudian mereka diminta untuk membicarakan bagaimana perasaan mereka saat melihat gambar dengan sudut pandang orang pertama dan orang ketiga.

Di lain percobaan, ada 50 orang peserta yang diminta untuk memikirkan pengalaman yang menyakitkan dengan cara yang sama. Setelah dilakukan analisis terhadap kedua percobaan itu, para peserta bisa mengatur emosinya dengan lebih baik untuk menghilangkan stres karena saat bercerita melalui sudut pandang orang ketiga, mereka berbicara sendiri.

“Hal ini seperti mengubah mereka ke dalam mode yang berbeda saat mengalami emosi negatif saat bercerita menggunakan namanya sendiri dibandingkan dengan menggunakan kata aku atau saya,” ungkap salah seorang peneliti seperti yang dikutip dari Fox News, Kamis (3/8). Ketika siswa terpikat dengan gambar yang mengganggu, aktivitas di daerah otak yang melibatkan emosi mengalami penurunan dalam waktu satu detik karena berbicara dari sudut pandang orang ketiga.

Dari kedua percobaan itu hasilnya menunjukkan menempatkan posisi diri sendiri dalam sudut pandang orang ketiga memerlukan usaha lebih sedikit untuk membentuk regulasi emosi dibandingkan dengan saat dia menempatkan diri dari sudut pandang orang pertama. Dengan begitu, individu menjadi lebih berpikiran positif.

 “Saat mereka melihat situasi dari sudut pandang orang ketiga, mereka mendapatkan sedikit jarak psikologis. Hal itu sangat membantu ketika mereka berada dalam situasi yang merangsang stres,” kata seorang peneliti lain, Jason Moser.

Sebagai contoh, ketika seorang anak bernama Jason mengatakan kepada diri sendiri “Aku tidak boleh takut” dia malah akan benar-benar merasa takut. Sebaliknya, ketika dia mengatakan “Jason tidak boleh takut,” itu akan merangsang pikirannya sehingga menjadi tidak takut.(int/eca)


Hal itu dikarenakan seperti ada orang lain yang berbicara padanya dan membawa emosi positif. Perasaan positif bisa mengendalikan pikiran Anda menjadi lebih baik dan berpengaruh terhadap kecerdasan.

Moser mengatakan, penggunaan sudut pandang orang ketiga untuk bercerita harus direkomendasikan oleh para psikolog terhadap pasien mereka yang sedang berjuang dengan kecemasan dan stres. Dengan begitu pasien bisa sedikit menghilangkan rasa stresnya.(int/eca)




Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif | Aktifitas |