Koalisi Advokasi Minta Foto Pelaku Pesta Seks Gay Tidak Disebarkan
ersangka pesta gay yang diringkus aparat Polres Jakarta Utara. (ELFANY KURNIAWAN/JAWAPOS.COM)

KECAM TINDAKAN SEWENANG-WENANG POLISI
Koalisi Advokasi Minta Foto Pelaku Pesta Seks Gay Tidak Disebarkan
Senin, 22 Mei 2017 - 17:52 WIB > Dibaca 599 kali
 
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Tindakan sewenang-wenang kepolisian saat menggerebek Altantis Gym & Sauna, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, Ahad malam (21/5/2017), menuai kecaman keras Koalisi Advokasi untuk Tindak Kekerasan Terhadap Kelompok Minoritas Identitas dan Seksual. Menurut anggota koalisi yang juga Direktur LBH Masyarakat Ricky Gunawan, kesewenang-wenangan tampak ketika 144 pengunjung Atlantis digerebek, ditangkap, dan digiring menuju Polres Jakarta Utara dalam keadaan tanpa busana dan dimasukkan ke dalam bus angkutan kota.

Tak hanya itu, mereka lalu dikonsentrasikan menjadi dua kelompok terpisah antara pengunjung dan staff sauna, yang berpindah dari satu ruang ke ruangan lain untuk alasan pemeriksaan tanpa mengenakan pakaian. Pihaknya juga mengecam para korban yang tetap diperlakukan secara sewenang-wenang oleh kepolisian setempat dengan memotret mereka dalam kondisi tanpa berbusana.

Akibatnya, foto-foto itupun menyebar secara viral, baik melalui pesan singkat, media sosial, maupun pemberitaan. "Tindakan tersebut adalah tindakan sewenang-wenang dan menurunkan derajat kemanusiaan para korban," katanya dalam keterangan yang diterima JawaPos.com, Senin (22/5/2017).

Dia memandang, penangkapan itu adalah preseden buruk bagi kelompok minoritas gender dan seksual lainnya. Pasalnya, bisa saja menjadi acuan bagi tindakan kekerasan lain yang bersifat publik. Atas kejadian tersebut, Koalisi Advokasi Untuk Tindak Kekerasan Terhadap Kelompok Minoritas Gender & Seksual, mengecam tindakan sewenang-wenang tersebut dan meminta kepolisian tidak menyebarkan data pribadi korban.

"Karena ini adalah bentuk ancaman keamanan bagi korban dan pelanggaran hak privasi setiap warga negara," tuturnya.

Lebih jauh, dia pun meminta agar masyarakat menjunjung tinggi asa praduga tak bersalah kepada korban. Jika korban dinyatakan tidak bersalah, untuk segera dibebaskan dan dipulihkan nama baiknya. Apalagi, menurutnya, tidak ada aturan jelas mengenai prostitusi gay. "Penangkapan ini atas dugaan prostitusi gay dimana sebenarnya tidak ada kebiajakan yang mengatur dan melarang tentang prostitusi gay," tuntasnya. (dna)

Sumber: JPG
Editor: Boy Riza Utama

Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler |