Puasa, Antara Kesalehan Ritual dan Sosial

RESENSI BUKU
Puasa, Antara Kesalehan Ritual dan Sosial
Minggu, 19 Juni 2016 - 00:20 WIB > Dibaca 5945 kali
 
Dalam Islam, kesalehan ritual dan kesalehan sosial merupakan satu kesatuan ibadah yang terpadu, tidak bisa dipisahkan. Kita tidak diperbolehkan hanya mementingkan ibadah sosial atau kesalehan sosial, dan melupakan ibadah ritual atau kesalehan individu, atau sebaliknya, hanya mementingkan ibadah ritual atau kesalehan individu, dan melupakan kesalehan sosial. Kesalehan individu atau ritual identik dengan hubungan seseorang secara pribadi kepada Allah SWT. Sementara ibadah sosial identik dengan hubungan seseorang dengan sesama manusia, dan sekaligus hubungan manusia dengan Allah. Ibadah sosial lebih mengutamakan kepentingan orang lain, tetapi berdampak positif juga bagi dirinya sendiri.

Oleh karena itu, walaupun banyak perintah untuk beribadah dalam agama ditujukan kepada individu, tetapi harus berdampak dalam kehidupan sosial yang nyata. Kita bisa simak dalam ibadah puasa. Puasa bukan sekadar kewajiban tahunan yang diperintahkan Allah bagi orang-orang beriman agar mereka menahan lapar dan dahaga. Tetapi lebih dari itu, puasa memiliki implikasi terhadap individu maupun sosial. Puasa merupakan bentuk ibadah yang memancarkan hikmah bukan saja bagi pembinaan kesalehan individual, melainkan juga bagi peningkatan kesalehan sosial. Merupakan media pengabdian dan sarana ibadah untuk meningkatkan kualitas diri. Merupakan wahana penyucian diri, pembinaan moral, dan penambahan kualitas spiritual manusia. Karena selama berpuasa, kaum muslimin dituntut untuk menjaga diri dari segala macam perbuatan yang dapat menodai kesucian jiwa raga dan melemahkan kekuatan moral spritualnya.

Oleh karena itu, dalam salah satu esai yang terkumpul dalam buku ini Gus Mus, penulis buku ini, menandaskan bahwa bulan puasa adalah momentum terbaik untuk mengoreksi diri. Pada bulan penuh berkah tersebut, suasana di luar dan terutama di dalam batin kita rasanya sangat mendukung untuk peningkatan mutu keimanan, keberagamaan, dan kemanusiaan kita. Pada saat seperti itu, kita memiliki peluang sangat baik untuk membuat jarak dengan diri sendiri, lalu mengadakan dialog yang sangat pribadi. Kita dapat melakukan koreksi agak lebih detail adn lebih teliti bagi peningkatan kualitas kekhalifahan dan sekaligus kehambaan kita. Tanpa membuat jarak terhadap diri sulit rasanya melakukan penilaian-penilaian yang mendekati obyektif (hal 13).

Dengan begitu tujuan ibadah puasa tercapai, yakni untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita. Dan, seorang baru dikatakan bertaqwa bila dirinya telah memantulkan kesalehan individual dan kesalehan sosial. Kesalehan individual tercermin dari perilaku keseharian kita, yang jujur, amanah, bersikap rendah hati, tawadhu, sederhana dan hal-hal baik lainnya. Sedangkan kesalehan sosial tercermin dari kedermawanan kita, tanggung jawab sosial kita, perhatian kita, atensi kita, empati kita, simpati kita kepada orang lain. Terutama kepada orang-orang yang berada dalam posisi sulit dalam kehidupannya.

Sehubungan dengan itu, kiranya kisah Kiai Basuni Rembang yang diangkat Gus Mus dalam buku ini bisa menjadi cermin. Kiai Basuni kenal siapa saja dan dikenal oleh siapa saja, karena hobinya menyapa orang. Kehidupan sehari-harinya dimulai dengan salat Subuh, lalu jalan-jalan. Disinggahi rumah-rumah famili dan kenalannya, sekadar menengok dan menanyakan keselamatan dan kesehatan mereka.***

Moh. Romadlon, penulis lepas




Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif | Aktifitas |