Menangkal Aliran Sesat

RESENSI BUKU
Menangkal Aliran Sesat
Minggu, 05 Juni 2016 - 00:06 WIB > Dibaca 3942 kali
 
Oleh Edi Sarjani

PENTING  sekali bagi orang yang hendak menghindari aliran sesat untuk mengetahui ciri-cirinya. Bahwa kesesatan sangat beragam dan bermacam jumlahnya. Namun akan dipaparkan beberapa ciri-ciri dari jalan kesesatan atau aliran sesat yang ada di tanah air kita.

Sebagian ciri dari aliran sesat yang ada di tanah air kita ini telah dikemukakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengeluarkan maklumat tentang 10 ciri aliran sesat, yaitu: pertama, mengingkari rukun iman (Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab Suci, Rasul, Hari Akhir, Qadha dan Qadar) dan mengingkari rukun Islam (mengucapkan 2 kalimat syahadah, salat wajib 5 waktu, puasa, zakat, dan Haji). Kedua, meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar‘i (Alquran dan As-Sunah); Ketiga, meyakini turunnya wahyu setelah Alquran. Keempat, mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran.

Kelima, melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir. Keenam, mengingkari kedudukan hadits Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sebagai sumber ajaran Islam. Ketujuh, menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul. Delapan, mengingkari Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam sebagai Nabi dan Rasul terakhir. Sembilan, mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syari’ah, seperti haji tidak ke Baitullah, salat fardu tidak 5 waktu. Sepuluh, mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i, seperti mengkafirkan seorang muslim hanya karena bukan kelompoknya.

Maka keresahan masyarakat terhadap sepak terjang Gafatar semakin memuncak sejak ditemukannya dr Rica Tri Handayani pada hari Senin (11/1/2016) di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah setelah dikabarkan hilang pada tanggal 30 Desember 2015 lalu di Yogyakarta. Kabar kehilangan anggota keluarga pun bermunculan di beberapa daerah mulai dari Padang, Pekanbaru, Jambi, Lampung, terus menjalar hingga Jakarta, Depok, Bandung, Solo, Yogyakarta, Surabaya dan daerah lainnya.

Ada beberapa jawaban pembelaan diri yang disampaikan oleh para pengurus Gafatar, baik dari Dewan Pimpinan Pusat. Sebenarnya hal tersebut merupakan bagian dari upaya untuk menutupi keyakinan dan agenda terselubung yang merupakan simpul utama dari setiap gerak dan langkahnya. Menurut Abu Deedat Syihab (Wakil Ketua Komite Dakwah MUI pusat), Gafatar tetap menganut aqidah sesat yang dikembangkan Moshaddeq dan untuk melegalkan kegiatan mereka membentuk organisasi sosial sebagai strategi.

Edi Sarjani. Bermastautin di Kota Bertuah asal Sei Upih Penyalai




Berita Terkait
Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif | Aktifitas |