FAKTOR KETURUNAN DAN POLA HIDUP
Gaya Hidup Tak Sehat, Usia Muda Juga Berisiko Tinggi
Minggu, 10 April 2016 - 11:33 WIB > Dibaca 4540 kali
 
(RIAUPOS.CO) - Umumnya, usia menjadi faktor risiko utama selain genetik yang membuat seseorang terkena kanker kolorektal atau kanker usus besar. Meski begitu, bukan berarti usia muda pun tak terhindar dari ancaman penyakit kanker ketiga terbanyak di dunia, setelah kanker paru dan payudara ini.

Diutarakan Prof Dr dr Arry Haryanto Reksodiputro, SpPD-KHOM, 9 dari 10 pasien yang terkena kanker kolorektal berusia di atas 50 tahun. Tetapi kelompok usia muda juga bisa berisiko apalagi jika memiliki gaya hidup tidak sehat.

"Bisa juga kena yang muda terutama selain dipengaruhi keturunan juga gaya hidup. Di usia muda banyak mengasup makanan kaya lemak, daging merah, protein, karbohidrat dan justru kurang serat seperti sayur dan buah, itu bisa jadi faktor risiko," tegas Prof Arry.

Faktor risiko lain yang patut diperhatikan adalah riwayat keluarga dengan kanker kolorektal. Sebab, 1 dari 5 pasien yang terkena kanker kolorektal berasal dari keluarga yang memiliki riwayat kanker kolorektal. Faktor risiko lainnya yakni adanya polip dan obesitas.

"Kemudian konsumsi alkohol dan merokok karena senyawa karsinogen pada rokok bisa meningkatkan risiko terkena kanker kolon. Kalau daging merah, banyak mengonsumsinya meningkatkan risiko kanker ini 3 kali lipat, terutama pada laki-laki," kata Prof Arry.

Prof Arry menuturkan, kanker kolorektal paling banyak terjadi pada lansia pasalnya daya tahan tubuh lansia seiring bertambahnya umur imunitas tubuh pun menurun. Sehingga, ketika ada sel yang tidak normal, sulit dideteksi dan tidak bisa ’dimatikan’ hingga bisa berkembang jadi kanker.

"Kanker kolorektal merupakan penyakit kanker terbesar ke-3 di dunia setelah kanker paru dan payudara dengan jumlah penderita 1,2 juta. Untuk mengurangi risikonya lakukan skrining sedini mungkin dan lakukan pola hidup sehat, banyak makan buah, sayur, serat, dan antioksidan," tutur Prof Arry.

"Patut diingat bahwa kanker bisa berkembang ketika genetik didukung lingkungannya. Genetik diibaratkan otak yang mengatur sifat sel hingga berubah dan tidak bisa dikendalikan. Kanker nggak bisa tumbuh kalau lingkungannya tidak ’mendukung’. Ada bakat, sel tumbuh, lingkungan menguntungkan maka sel kanker pun tumbuh," tandas Prof Arry.(int/noi)





Berita Terkait
Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif | Aktifitas |