Karakteristik Kompleks Kekuasaan

BUKU
Karakteristik Kompleks Kekuasaan
Minggu, 27 Maret 2016 - 09:12 WIB > Dibaca 4205 kali
 
Penguasa dalam perspektif dunia sejarah dan segala hal yang mengikutinya identik serta erat kaitannya dengan kekuasaan. Kekuasaan merupakan hal yang mutlak diperlukan dan terlebih dari itu semua, didapatkan, jika berbicara mengenai konsep negara baik yang berada di dalam sistem negara (kekuasaan) maupun di luar sistem negara (kekuasaan). Tentunya hal tersebut berimplikasi bagaimana kekuasaan itu didapatkan dan dijalankan demi kepentingan masyarakat banyak.

Buku yang merupakan karya intelektual dari Daniel Dhakidae ini menyuguhkan dengan mendalam dan menyeluruh perihal tokoh-tokoh yang namanya tertulis dalam sejarah perjalanan bangsa dan negara Indonesia. Semua tokoh yang dibahas dalam buku luar biasa ini memiliki satu keranjang yakni perlawanan dengan cara mereka masing-masing terhadap kekuasaan. Ada tokoh yang melakukan perlawanan terbuka di hadapan publik dan ada pula tokoh yang melakukan perlawanan secara diam-diam dalam kesendirian mereka masing-masing.

Nama Daniel Dhakidae malang melintang dalam pergulatan dan perkembangan ilmu pengetahuan Indonesia terutama bagi mereka yang berada dalam lingkungan kampus dan civitas academica sebagai intelektual kawakan yang begitu perhatian terhadap khazanah pengetahuan Indonesia yang multiperspektif. Dalam buku ini Daniel membagi menjadi 3 bagian. Pertama, “Kekuasaan Kaum Tak Berkuasa” (Powerfulness of the Powerless). Kedua, “Kekuasaan Kaum Terbuang” (Power of the Outcasts). Ketiga, “Ke-Tak-Kuasa-an Kaum Berkuasa” (Powerlessness of the Powerful).

Dalam buku ini, memang harus diberikan pengakuan bahwa gaya bahasa dan kosa kata yang dipakai benar-benar tinggi serta berhubungan dengan dimensi keilmuan tingkat kampus sehingga menjadikan buku ini pegangan penting untuk memahami karakteristik kompleks kekuasaan itu sendiri. Bagi mereka yang menghayati sejarah dan biografi tokoh-tokoh besar itu sendiri, maka gaya bahasa serta kosa kata tinggi yang dipakai dalam buku ini justru menjadi tantangan tersendiri untuk mendalami buku dahsyat ini.

Pada bagian prolog (hlm. xiv), Daniel menulis bahwa membaca kehidupan mereka adalah membaca sejarah from a different vantage point, dari suatu titik strategis yang lain, yang tidak biasa. Kehidupannya membuat sejarah dan politik lebih berdarah dan berdaging karena di sana bisa dibaca pandangan pribadinya tentang hal apapun yang menarik perhatiannya, keterlibatannya dalam banyak hal sosial, politik, dan kebudayaan, perlawanan dan persetujuannya.

Kekuasaan dapat begitu nyata dan sekaligus juga begitu misterius seperti yang dipaparkan Daniel Dhakidae. Lebih lanjut ia menyebutkan (hlm. 1), “Nyata ketika darah tumpah dan perlawanan ditumpas sampai hancur, manusia dipenjarakan baik karena melakukan melakukan kejahatan, karena persaingan politik; bahkan dalam negara otoriter orang dipenjarakan karena melakukan kebaikan. Namun, kekuasaan juga bisa “manis” bagi seorang yang miskin turun-temurun karena dengan mendapat lisensi ekspor-impor, misalnya, seorang bisa menjadi bilioner dalam tempo singkat. Kekuasaan bisa menghilangkan orang dan menemukannya kembali. Kekuasaan juga bisa misterius ketika seorang bersahaja dan tidak memiliki apapun tiba-tiba menjadi penguasa tanpa restu kekuasaan yang sedang memerintah, menjadi penguasa suatu bangsa dan mengalahkan orang berpunya, dan berduit.”





Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif | Aktifitas |