Sayap Keabadian Rudy Habibie

OLEH JIMMY FRISMANDANA KUDO
Sayap Keabadian Rudy Habibie
Minggu, 07 Februari 2016 - 00:01 WIB > Dibaca 7416 kali
 
MENDENGAR  BJ Habibie,  tentu kita sebagai anak  bangsa Indonesia yang hidup dalam taman kebhinekaan, semua langsung teringat pada sosok Presiden Republik Indonesia ketiga, dengan segala kesungguhan hatinya untuk memimpin Indonesia dalam waktu yang relatif singkat, kurang dari 2 tahun. Tepatnya, Habibie memimpin Ibu Pertiwi tercinta selama 512 hari.

Kepemimpinan Habibie dengan nama kecil Rudy ini tentu saja menarik untuk diteladani oleh generasi muda yang nanti menjadi pemegang tampuk kepemimpinan di negara ini. Kita dapat mencontoh segala kecerdasan Rudy dalam menggapai semua keinginan serta segala mimpinya. Hal ini didapat dari berbagai usaha dan kerja keras serta bersungguh-sungguh.
Buku yang ditulis oleh Gina S Noer dengan manis dan penuh rasa hormat ini, menceritakan dengan jernih sekali tentang sosok Rudy Habibie utamanya pada masa muda. Masa muda dalam ilmu psikologi adalah masa yang merupakan masa pencarian jati diri tiap anak manusia sehingga hal tersebut akan dibawa seumur hidup nantinya.

Bahasa yang digunakan dalam buku ini mudah untuk dipahami serta dicerna oleh semua kalangan. Bagaikan air yang mengalir dengan jernih dan murni maka demikianlah gaya bahasa yang digunakan dalam buku ini. Dalam banyak hal, bahasa buku ini sangat kuat dalam arti setiap kalimat yang tergabung dalam paragraf yang satu ke paragraf lainnya menunjukkan betapa besarnya dan betapa luar biasanya pengalaman yang didapat oleh Rudy Habibie.

Dalam buku ini seperti halnya sosok Rudy, sosok ibu merupakan figur sentral yang sangat dihormati dan disayangi Rudy. Apalagi, setelah ayahanda Rudy meninggal ketika sedang melaksanakan salat sehingga sang ibunda pun bersumpah melakukan yang terbaik demi kelangsungan pendidikan seluruh anak-anaknya. Diceritakan dengan penuh emosional pada bagian Sumpah Mami (hlm. 61-71). Sungguh mulia sosok seorang ibu!

Rudy Habibie yang mungil dan eksentrik serta sangat cerdas ini identik dengan satu hal yakni dunia penerbangan atau yang lebih akrab dengan istilah kedirgantaraan. Tak salah kiranya ketika Rudy kuliah di Jerman mengambil jurusan yang berhubungan erat dengan dunia penerbangan yang berasal dari beasiswa yang didapat dengan penuh dinamika kehidupan seorang negarawan besar.

Rudy pada pertengahan tahun 1970-an, dipanggil kembali oleh Bapak Pembangunan, Soeharto untuk membangun industri penerbangan Indonesia di bawah naungan Industri Pesawat Terbang Nasional (IPTN). Rudy pun berhasil dengan gemilang membangun sayap nusantara dan sayap Garuda Indonesia dengan penuh rasa cinta dan nasionalisme sampai pada akhirnya pada tanggal 10 Agustus 1995, Indonesia berhasil menerbangkan pesawat CN-235 yang merupakan 100 persen hasil karya anak bangsa Indonesia Raya sekaligus sebagai kado manis Hari Ulang Tahun ke-50 Kemerdekaan Indonesia pada saat itu.

Rudy Habibie di mata publik Jerman termasuk warga terhormat karena kecerdasan dan kejeniusannya yang luar biasa dalam industri Jerman. Bahkan, salah satu kota di Jerman tepatnya kota Aachen merupakan kota tempat Rudy banyak meninggalkan kenangan indah dan memori manis serta suka duka kehidupan sewaktu pada usia mudanya yang penuh madu kehidupan bernama pengalaman kampus sehingga membentuknya menjadi ilmuwan berkarakter kuat sekaligus negarawan sejati penuh dedikasi.





Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif | Aktifitas |